Lihat ke Halaman Asli

Khrisna Pabichara

TERVERIFIKASI

Penulis, Penyunting.

Tentang Kucing: Yang Disiksa, Yang Dicinta

Diperbarui: 23 Maret 2021   19:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Franklin Denson Praytor ketika mengobati Mis Hap (Foto: news.usni.org)

Semasa remaja, saya merawat seekor kucing. Namanya Sri. Bulunya berwarna kuning dan putih. Ia pintar dan lucu. Jika saya tiba di rumah, ia mendusel-dusel di kaki saya. Begitu sepatu lepas dari kaki, Sri langsung melompat ke pangkuan.

Sri awalnya kucing liar. Saya menemukannya di ladang di belakang rumah. Kakinya pincang. Ada darah di perut bagian samping kiri. Saya bawa ke rumah. Saya rawat. Kakak dan adik saya juga senang bercanda bersama Sri.

Hanya lima bulan. Memasuki bulan keenam, pada satu siang yang panas, Sri tidak ada. Saya cari ke mana-mana. Ia raib entah di mana. Dua hari kemudian, Arung, adik saya, mengajak saya ke kebun. Di rumpun bambu, di tempat saya menemukannya, Sri berbaring untuk selamanya. Kaki patah, perut sobek.

Setiap mendengar ada kucing yang disiksa orang, hati saya melaung. Kadang kepala saya sarat tanda tanya. Kenapa ada manusia yang sebegitu tega menyiksa binatang? Pada saat lain, kepala saya penuh jawaban. Malahan ada manusia yang tega menyiksa sesama.

November 2019. Sila, seorang pencinta kucing di Pontianak, mondar-mandir mencari Bunga. Sang kucing kesayangannya baru berusia empat bulan. keesokan harinya, dilansir Kompas.com, Bunga pulang. Ia kembali dengan mata sebelah kanan terluka.

Sebulan sebelumnya, Oktober 2019, jagat mayantara heboh. Seseorang di Tulungagung menyiksa seekor kucing. Si kucing dicekoki ciu. Si kucing mabuk. Teler habis. Kemudian, mati. Ginjal dan hati sang kucing rusak.

Desember 2019. Seekor kucing tergantung di pohon. Mati. Peristiwa mengenaskan itu terjadi di Bali. Media sosial kembali gaduh. Kabar yang bermula dari unggahan foto di Facebook akhirnya viral. Syahdan, si pengunggah mengaku kesal lantaran sembilan merpati hilang tanpa jejak.

9 Maret 2021. Dua orang berdebat gara-gara kucing. Perdebatan sengit itu terjadi depan sebuah sekolah. Yang satu tidak suka kucing berkeliaran di sekitar sekolah, yang satu mengingatkan agar tidak menyiksa binatang. Video itu viral, seperti dilansir Kompas.tv.  

Pada sisi lain, hati saya juga sering benar digelimuni rasa haru. Perasaan haru muncul acapkali saya baca kisah menarik tentang kucing.

Tercatat pula riwayat Franklin Denson Praytor di news.usni.org. Ia anggota Divisi Marinir AS. Pada tahun 1952, Frank diterjunkan ke Perang Korea. Tatkala bertugas sebagai koresponden tempur di Divisi Marinir I, Frank menyelamatkan dua ekor bayi kucing. Induk kucing itu mati terkena pecahan  mortir.

Sebuah foto mengabadikan bagaimana Frank mengobati seekor kucing yang ditolongnya. Foto itu viral pada masanya. Sebanyak 1.700 koran mengabarkan betapa telaten Frank meneteskan obat dan memberikan makan pada Mis Hap, sang kucing piaraannya.

Gara-gara Mis Hap, Frank terkenal. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2009, ia menceritakan pengalaman uniknya kepada U.S. Naval Institute.

"Saya menerima surat dari gadis-gadis dari seluruh penjuru negeri. Mereka ingin saya nikahi," ujar Frank. Dia tertawa. "Saya bahkan mendapat tawaran menikah dari beberapa lelaki."

Sebagai seorang koresponden, ia sering mengabadikan sendiri peristiwa yang dilihatnya. Salah satu foto ia ikutkan kompetisi. Ia menang sehingga mesti pulang ke Amerika untuk menerima hadiah. Setiba di Amerika ia diadili lantaran membocorkan foto tanpa seizin militer.

"Anak kucing kecil itu telah menyelamatkan hidupku," tutur Frank Praytor.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline