Lihat ke Halaman Asli

Khrisna Pabichara

TERVERIFIKASI

Penulis, Penyunting.

Lirik Lagu Lawas, Larik Ingatan, dan Lintas Gerimis di Mata

Diperbarui: 9 Maret 2021   20:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Museum Wage Rudolf Supratman (Foto: humas.surabaya.go.id)

9 Maret. Hari Musik Nasional. Ya, 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional berdasarkan Keppres No. 10 Tahun 2013. Tanggal kelahiran penggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, dipilih sebagai Hari Musik Nasional.

Musik lekat dengan kehidupan manusia. Termasuk saya. Tanpa musik, dunia saya sunyi. Tanpa cinta, dunia saya hampa. Musik dan cinta. Dua-duanya saya suka. Sejak zaman pita kaset hingga era digital, musik senantiasa mengindahkan dunia saya.

Guna memperingati Hari Musik Nasional, saya ingin berbagi cinta kepada khalayak pembaca. Oh, ini bukan cinta biasa. Cinta yang mengalun bersama lenting nada, lembut suara, dan lengking rasa. Tidak banyak. Saya agihkan tiga dulu. Lagu lawas dulu, ya.

Padi Reborn (Foto: Instagram/Padi)

Mahadewi, Padi

Setiap mendengar lagu ini, hati saya bagai dibelai malaikat. Tenang. Teduh. Lagu ini dipopulerkan oleh Padi. Liriknya digubah oleh Piyu dan Rindra. Membincangkan karya-karya Padi, bagi saya, sama seperti membincangkan puisi. Liriknya puitis. Sarat makna pula.

Hamparan langit mahasempurna. Dari sana bermula perjalanan rasa. Padi mengajak saya asyik-masyuk bersama semesta. Bertakhta bintang-bintang angkasa. Malam dengan langit bertabur bintang gemintang. Syahdu. Sendu.

Namun satu bintang yang berpijar. Teruntai turun menyapa aku. Di sini imajinasi bergerak. Di sini hati menemukan suasana riang, bergembira. Tidak peduli seharian letih, tidak peduli bara saja diri diamuk tragedi, menyapa bintang dapat mengheningkan dan membeningkan hati.

Kadang kita tidak tahu mengapa hati mendadak berduka. Bersedih. Rasa sedih itu tiba-tiba saja ada. Tiba-tiba saja menyergap dada. Bersunyi-sunyi di hamparan semesta bisa mengobati duka. Ada tutur kata terucap. Ada damai yang kurasakan. 

Memang demikianlah hidup. Air mata tidak mutlak milik duka. Dalam keadaan bahagia pun kita bisa meneteskan air mata. Malahan, hati berasa damai setelah pipi kita dihangatkan oleh air mata. Bila sinarnya sentuh wajahku, kepedihanku pun terhapuskan. 

Lewat Mahadewi, Padi mengajak kita rajin-rajin bercengkerama dengan semesta. Baik semesta besar di luar diri maupun semesti kecil bernama hati di dalam diri kita. Tidak harus kaya, tidak mesti berharta banyak, hidup bisa dinikmati dengan hati yang damai.

Sumber: Bidik layar Instagram Dewa 19

Roman Picisan, Dewa 19

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline