Lihat ke Halaman Asli

Tradisi Larung Sesaji Gunung Kelud yang Mencerminkan Identitas Nasional

Diperbarui: 8 November 2022   18:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber : ChanelRedaksi

Kebudayaan merupakan Identitas Nasional suatu bangsa. Identitas Nasional bangsa dapat dikatakan sebagai keunikan, karakteristik, atau kecirikhasan, agar suatu bangsa tersebut dapat dibedakan dengan bangsa lainnya. 

Akan tetapi kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi menimbulkan berbagai masalah dalam bidang kebudayaan, misalnya hilangnya budaya asli suatu daerah, terjadinya erosi nilai-nilai budaya, menurunnya rasa nasionalisme dan patriotisme, hilangnya sifat kekeluargaan dan gotong royong, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kultur Indonesia. (Aprianti, Muthia dkk, 2022)

Budaya Indonesia sangat berbeda dari budaya barat karena ada perbedaan dalam hal kebiasaan, sistem keyakinan, hierarki, agama, pengertian tentang waktu, hubungan spasial, dan banyak lagi. Apalagi dalam Indonesia sendiri terdapat banyak budaya yang berbeda. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara yang kompleks, dan karena itu negara ini menjadi sangat menarik dibandingkan dengan negara lainnya. (Indonesia Investments, 2022)

Salah satu tradisi yang terkenal di Jawa Timur adalah tradisi Larung Sesaji di Gunung Kelud. Tradisi ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Dimana tradisi ini bermula dari meletusnya gunung kelud yang sering dikaitkan dengan kisah Dewi Kilisuci dan Lembusura. 

Dewi kilisuci merupakan seorang putri dari Kerajaan Jenggala yang terkenal dengan kecantikannya yang luar biasa. Ia menerima pinangan dari dua raja yang dikenal dengan Lembu Suro dan Mahesasuro. 

Ia sebenarnya tidak mau menerima lamaran mereka berdua, namun ia tidak bisa langsung menolak begitu saja, oleh karena itu Dewi Kilisuci memiliki siasat dengan memberikan syarat kepada mereka berdua, yaitu dengan membuat dua sumur dimana masing-masing dari sumur tersebut berbau amis dan asing.

Namun, Dewi kilisuci merasa syarat tersebut terlalu mudah bagi mereka, akhirnya ia memiliki rencana lain dengan memberikan mereka waktu hanya dalam satu hari satu malam.

Namun, ternyata belum sampai satu hari satu malam dengan kesaktian dan kekuatan Lembu Suro dan Mahesasura berhasil membuat kedua sumur tersebut. Dewi Kilisuci yang sama sekali tidak ingin dinikahi oleh salah satu dari mereka merasa panik, akhirnya ia meminta anak buahnya untuk memberitahu ke Lembu Suro dan Mahesasura bahwa ia terjatuh ke dalam sumur, padahal ia belum pernah sama sekali mendekati sumur tersebut. 

Ketika Lembu Suro dan Mahesasura hendak membantunya dengan masuk kedalam sumur, ia meminta anak buahnya untuk segera mengubur mereka. Padahal Lembu Suro dan Mahesasura masih berada didalamnya. Mereka terkubur di dalam sumur hasil kerja kerasnya sendiri. 

Sebelum akhirnya mati tertimbun, dikisahkan bahwa Lembu Suro sempat mengucapkan sumpah dimana Kabupaten Kediri akan menjadi sungai (kali), Blitar jadi halaman (latar), dan Tulungagung jadi danau (kedung). Oleh karena masyarakat yang takut dengan kutukan tersebut akhirnya mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan upacara adat Larung Sesaji Gulung Kelud setiap setahun sekali.

Upacara Larung Sesaji Gunung Kelud biasa dilakukan di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri yang bertujuan untuk menolak bala sumpah Lembu Suro yang merasa terkhianati oleh Dewi Kilisuci. Sesaji dari ritual ini berisi nasi, sayuran, lauk-pauk, dan buah-buahan yang dikemas dalam bentuk tumpeng. Terdapat dua jenis tumpeng yang dibuat oleh masyarakat yaitu, nasi putih dan nasi kuning dengan hiasan yang dibentuk sedemikian rupa. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline