Lihat ke Halaman Asli

Cerpen | Paradoks Malam Jumat

Diperbarui: 2 Agustus 2018   00:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi (@kulturtava)

Malam bukannya tak mau bersahabat. Tapi, aku hanya sedang enggan mengakui bahwa malam ini indah. Lampion warna-warni dengan berbagai bentuk, konkret hingga abstrak, terpasang melintang, membentuk corak tersendiri di langit. Bukan perayaan tahun baru, apalagi imlek. 

Hari ini telah berlalu jauh dari hari biasanya lampion terpasang. Mungkin karang taruna setempat iseng menyemarakkan kota kecil ini, atau mereka ingin meledek hatiku yang sedang gelap? Mungkin yang tahu jawabannya hanya malam.

Ramai muda-mudi melintas di jalan yang mengerucut pada suatu bundaran yang berada di Simpang Lima. Entah berjalan kaki, maupun bersepeda motor. Tertawa-tawa melepas sukacita melewatiku, yang untuk tertawa saja sulit, letih bersandar di tiang listrik yang kurus. 

Aku seperti patung yang tak sama sekali indah, diletakkan begitu saja tersandar di tiang listrik. Sama sekali tak menarik minat orang-orang yang lewat. Aku lebih mengenaskan dibanding pengamen dan pengemis malam ini.

Lalu lintas bising. Kendaraan roda dua hingga roda empat lewat dengan bunyi meraung-raung seperti ingin berlomba-lomba meramaikan hatiku. Namun, tetap saja sunyi. Aku tak mendengar apa-apa. Aku hanya mendengar suaramu melayang-layang di rongga telinga.

"Kita akan menikah", suara itu berbisik membuatku ingin muntah. Untung aku tidak muntah, bisa kacau pasangan berusia belasan tahun dengan baju couple yang baru saja persis melintas di depanku. Si laki-laki memakai kaus bertuliskan Bunda, dan si perempuan memakai kaus bertuliskan Ayah. Aku mengutuk dalam hati. Oh kejamnya baju itu! Apa mereka tak merasa telah berganti kelamin?

Aku semakin mual ketika sebuah motor dengan knalpot modifikasi berbentuk naga--sekali lagi aku ingin muntah--lewat dengan lampu sorot bikin katarak. Si perempuan memeluk hangat tanpa rasa malu pada laki-laki kerempeng yang mengendarai motor, amat teramat mesra. Aku membayangkan petir menyambar mereka dan Malin Kundang versi pasangan mesum tercipta di muka bumi.

Kita sering bermimpi memiliki rumah dengan halaman luas dengan banyak anak. Katamu, tidak apa bermimpi, mimpi adalah awal kesuksesan. Aku menelan mentah-mentah omonganmu, karena aku tahu kau lebih pintar. 

Sedangkan aku masih mencari-cari jati diri. Klasik, pasaran, murahan, apa saja yang bisa kau ucapkan untuk mendeskripsikan aku. Lalu kemudian kau sambung lagi dengan pertanyaan "Ingin punya berapa anak?", dengan polosnya aku menjawab "Banyak!", padahal tak satu pun bilangan angka tercetak di dalam pikiran. Aku asal bicara saja, yang penting aku bahagia dan aku tahu kau serius.

Waktu itu malam jumat bertepatan dengan malam satu suro. Beberapa tempat di belahan Pulau Jawa biasanya merayakannya dengan pawai obor atau arak-arakan keliling kampung. Kita pun merayakannya pula dengan bermain api.

"Hati-hati terbakar," Tak pernah kau berkata tanpa melukiskan senyum di bibir.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline