Lihat ke Halaman Asli

Yuzelma Zelma

Guru yang hobi menulis

Terlambat Bukan Berarti Gagal

Diperbarui: 3 Desember 2021   08:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: Dokumen Pribadi

Setiap kali saya membersihkan meja kerja, setiap kali itu juga saya diingatkan akan sosok seorang anak yang pernah menjadi siswa saya.

Meskipun letak meja sudah bergeser dari depan ke belakang, dari samping kiri ke kanan,namun ada satu benda yang tidak pernah saya geser-geser beberapa tahun belakangan ini.  Bahkan posisinya tidak pernah tertimpa dengan buku,laptop,dan benda kerja lainnya saat bekerja.

Sebuah gambar tanpa warna di sebuah kertas HVS. Gambar ini punya cerita bermakna selama saya menjadi guru. Gambar ini membuat mind set' saya berubah. Gambar ini juga yang membuat cara pandang saya kepada siswa juga berubah.

Saat itu,sekitar tahun 2013, saya mendapati siswa yang selalu memegang pensil dan posisi menunduk saat belajar di kelas. Setiap saya berjalan mendekati meja, dia selalu menutup buku tulisnya.  Hati ini selalu bertanya, ada apa dengan buku tulisnya?

Suatu ketika saat belajar di kelas, siswa diberi latihan menghitung neraca massa. Mereka kerja kelompok. Saya memfasilitasi mereka secara berkelompok untuk menuntaskan dua soal hitungan neraca massa.

Secara diam-diam saya mengamati sosok anak yang pendiam,yang selalu membuat saya penasaran, ada apa  sebenarnya di buku tulisnya itu.  Saat asik mendampingi  siswa belajar berkelompok, saya mendapati anak tersebut tidak aktif berdiskusi,namun sangat sibuk dengan pensilnya.

Saya mencoba memecah konsentrasinya dengan memberikan instruksi,namun dia sama sekali tidak menghiraukan dan tetap fokus dengan aktivitasnya.

Akhirnya secara diam-diam saya berjalan dari  arah sisi belakang kelompoknya.  Setelah tepat berdiri di belakangnya,saya  melihat tangan itu sangat  lincah menggoreskan pensil di  buku tulis. Begitu lincah  tangan itu menggerakkan  pensil,sehingga tidak sampai dalam hitungan 1 menit,separuh  gambar sudah berbentuk.

Saya terkesima dengan hasil  goresan tangan itu. Belum sempat memandang lebih lama, teman satu kelompoknya sudah memberi aba-aba kepada anak tersebut agar melanjutkan diskusi.

Saat dia tahu saya sedang mengamatinya, dengan cepat dia menutup buku tulisnya. Saat itu saya membujuk untuk membukanya. Ternyata setelah  dibuka, hampir satu buku tulis sudah dipenuhi dengan banyak gambar yang fantastis.  Saat itu saya langsung menyampaikan apresiasi takjub atas kecerdasan yang dimilikinya.  Karena saya sendiri sebagai guru  sama sekali tidak mampu berkarya seperti dia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline