Lihat ke Halaman Asli

Kenapa Saya Tidak Puas Nonton Film Warkop DKI Reborn?

Diperbarui: 19 September 2016   17:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

life.viva.co.id

Jika ada hal lain yang dapat membuat anak-anak berhenti bermain saat sedang asyik bermain di siang bolong selain disuruh pulang oleh ibunya, itu adalah Film Dono.

Ya. Kami masih kecil saat itu sekitar usia 7-9 tahun atau sedikit lebih besar (usia anak-anak SD). Kami tidak kenal siapa itu Warkop DKI tapi kami tahu siapa Dono, Kasino, dan Indro. Jika salah seorang dari kami membawa kabar gembira "ada Film Dono di TV", kami langsung stop bermain dan duduk anteng di depan televisi sambil tertawa terbahak-bahak melihat aksi mereka. Sosok Dono yang selalu apes tapi kalau urusan wanita dia selalu "menang banyak", Kasino yang sok pintar tapi memang pintar, serta Indro kami kenal sebagai Dono-Kasino-Indro bukan Warkop DKI.

Kami tidak perlu tahu dan tidak pernah cari tahu apa judul film yang kami tonton. Pokoknya tahunya "Film Dono". Titik. Kami masih sangat kecil untuk tahu bahwa di film itu banyak sekali cewek-cewek cantik, seksi, bahenol, dan hal-hal berbau dewasa lainnya.

Hanya ada dua judul film yang kami hapal (Kata "kami" yang saya maksud adalah saya dan teman-teman di masa kecil): "Chips" dan "Manusia 6 Juta Dolar". Itu pun karena dua film itu adalah film mengadaptasi dari film Barat yang sudah terkenal.

Itulah masa kecil kami yang diceriakan oleh film-film komedi dewasa, baik itu oleh Warkop DKI, Kadir-Doyok, Ateng-Iskak. Ada pula sinetron komedi: Jinny oh Jinny, Putri Duyung, Putri Salju. Tidak ada masalah bagi kami dan kami pun tidak pernah meniru hal-hal buruk yang diadegankan pada film-film tersebut. Lebih tepatnya, nyaris tidak pernah. Itu karena masih banyak acara anak lainnya sebagai penyeimbang.

Itu dulu. Sayang seribu sayang. Hari ini, di era yang semakin individualis berkedok media individual eh maksudnya media (sok) sosial, di mana solidaritas berwujud like, share, tanda tangan petisi, tuntunan hanya menjadi tontonan dan tontonan kini beralih menjadi tuntunan.

Baru-baru ini saya baca tulisan/curhatan tentang kekecewaan sang orang tua karena terlanjur mengajak anaknya nonton Warkop DKI Reborn. Saya juga orang tua lo! Dan saya juga mengajak anak saya nonton Warkop DKI Reborn, lo! Jadi yang saya alami juga sama dengan yang dia alami, lo! Jadi saya juga berhak berkomentar, lo!

Seharusnya sebelum dia mengajak anaknya nonton Warkop DKI Reborn, dia cari tahu apakah film ini cocok untuk tontonan anak-anak. Sementara alasan saya mengajak anak sana nonton karena tidak ada pilihan lain.

Dia tidak pernah nonton "Film Dono" semasa mudanya kali ya? Atau dia pikir reaksi anaknya nanti akan sama dengan kami yang lahir tahun 80-90 an?

"Jangkrik Bos!" Itulah kata yang akan sering kita dengar saat nonton film Warkop DKI Reborn di bioskop. Memang saya pribadi agak sedikit kecewa karena pada film sebelumnya (CHIPS), kata "jangkrik" tidak diucapkan sebegitu seringnya. Tapi di film "Jangkrik Bos!" kata itu digunakan sebagai umpatan di mana-mana. Berkali-kali pula. Pada akhirnya banyak sekali orang tua yang mengeluh karena anaknya sekarang sering mengumpat dengan kata "Jangkrik!"

Bagaimana dengan anak saya? Alhamdulillah ini juga merupakan karunia dari Allah. Tidak sekalipun anak saya mengumpat saat nonton film tersebut karena saya selalu tanamkan kepada anak saya untuk berkata yang baik. Sekali saja anak saya ada hal jelek bahkan jika itu di film anak-anak sekalipun, saya langsung menasihati sebagai seorang ayah yang menasihati anaknya. Alhasil, sekalipun anak-anak lain yang juga ikut nonton Warkop DKI Reborn terus-terusan mengumpat "jangkrik! jangkrik!" anak saya hanya ketawa menikmati komedinya. Persis seperti ayahnya dulu hehehe.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline