Lihat ke Halaman Asli

Proses Produksi Agroindustri Tepung Tapioka di Desa Pogalan, Kabupaten Trenggalek

Diperbarui: 3 Mei 2021   01:06

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Desa Pogalan merupakan suatu daerah sentra agorinsutri tepung Tapioka di Kabupaten Trenggalek. Produksi ubi kayu yang sifatnya hanya musiman maka harga ubi kayu cukup berfluktasi, saat musim panen harga ubi kayu rendah, namun saat ubi kayu tidak dalam musim panen maka harga ubi kayu tinggi. Banyak agroindustry di Kabupaten Trenggalek memanfaatkan tepung tapioka sebagai bahan baku. Oleh karena itu, kebutuhan tepung tapioka semakin meningkat dikarenakan adanya industry tersebut. Kebutuhan tepung tapioka yang meningkat tersebut dapat tercukupi dengan adanya investasi agorindustri tepung tapioka yang baru di wilayah tersebut. Tepung tapioka adalah pati dari umbi singkong yang dikeringkan dan dihaluskan. Tepung tapioka merupakan produk awetan singkong yang memiliki peluang pasar yang sangat luas. Proses pengolahan singkong menjadi tepung tapioka pada industri rumah tangga sama halnya dengan proses pembuatan tepung tapioka disetiap pabrik. Hanya yang membedakan biasanya alat dan teknologi yang berbeda. Proses pengolahannya adalah sebagai berikut :

1.  Pengupasan kulit singkong.

Singkong yang akan proses terlebih dulu dikupas kulitnya. Kulit singkong tidak digunakan untuk dijadikan tepung tapioka. Pengupasan kulit singkong ini menggunakan alat sederhana berupa pisau. Pisau ini fungsinya untuk memotong dan mengupas kulit singkong. Dibutuhkan tenaga dan pengalaman khusus agar kulit singkong bisa terkelupas dengan baik dan benar. Singkong yang sudah dikupas dimasukan ke dalam wadah.

2. Pencucian singkong

Pencucian singkong dilakukan dalam bak yang di dalamnya terdapat alat untuk melakukan pencucian singkong. Singkong ini dimasukan ke dalam glebeg dan untuk proses pencucian singkongnya biasanya membutuhkan banyak sekali air. Jumlah air yang dibutuhkan sekitar 4.000 liter dan dalam proses ini ketersediaan air harus cukup. Air yang digunakan dapat berasal dari sumur dan air sungai. Untuk pencucian singkong tidak ditentukan waktu, karena mesin terus berputar sampai singkong habis.

3. Pemarutan singkong

Setelah singkong dicuci kemudian singkong dimasukkan ke bak yang didalamnya terdapat mesin pemarut untuk dipotong dan diparut sehingga menjadi bubur singkong. Mesin pemarut harus selalu diberi air untuk memudahkan pemarutan. Alat pemarut singkong ini berbentuk kecil dan berada di bawah bak penampungan singkong. Alat ini digerakan dengan menggunakan kaki yang dikayukan dengan mesin ke kayu sebagai pedalan sehingga proses ini akan terus berjalan. Air ini akan mengalikan bubur ke dalam suatu glebeg yang terus menerus berputar Dari glebeg ini kemudian pati singkong dialirkan ke alat penyaring. Dari sini dihasilkan bubur singkong.

4. Penyaringan dan pemerasan bubur singkong

Proses penyaringan dan pemerasan dilakukan dengan mesin saringan. Bubur singkong dimasukkan dalam alat dan harus selalu disiram air. Air dari proses penyaringan ditapis dengan kain tipis yang di bawahnya sudah disediakan wadah untuk menampung aliran air tersebut, di atas saringan ampas tertahan sementara air yang mengandung pati ditampung dalam wadah atau bak pengendapan.

5. Pengendapan bubur singkong

Proses pengendapan bertujuan untuk memisahkan pati murni dari zat pengotor lainnya. Pada proses pengendapan ini akan terdapat butiran pati termasuk protein, lemak, dan komponen lain yang stabil dan kompleks. Proses pengendapan berlangsung selama 24 jam.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline