Lihat ke Halaman Asli

Yudhi Hertanto

TERVERIFIKASI

Simple, Cool and Calm just an Ordinary Man

Mediasi Pandemi dan Membalik Gagal Nalar Menyikapinya

Diperbarui: 15 April 2020   14:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi orang-orang yang diduga membuat kerusuhan. (sumber: KOMPAS./HANDINING)

Bersiap rusuh. Skenario itu termuat dalam ekspresi vandal kelompok anarko sindikalisme. Narasi yang diangkat diantaranya, "mati konyol atau melawan", "kill the rich" hingga "sudah krisis, saatnya membakar". 

Pandemi memang penuh kekacauan, dibutuhkan kemampuan rasional untuk mengatasinya. Terkait aspek legal yuridis, kita menyerahkan penanganan kasus kepada otoritas aparat penegak hukum. 

Tulisan ini dipergunakan untuk melihat perubahan sosial yang terjadi bersamaan dengan pandemi. Sinyal lembut kondisi sosial perlu dipahami.

Kerangka anarko sindikalisme, dekat dengan kajian struktur kelas Marx, sebagai pisau analisis sosial. Pada banyak literatur, kehendak anarki berupaya mendekonstruksi instrumen kekuasaan negara, yang menjadi simbol penindasan manusia atas manusia.

Perspektif dari varian sindikalisme menempatkan kerangka perubahan sosial pada kekuatan produktif lapis tenaga kerja untuk menguasai alat produksi yang dimaknai sebagai sumber utama kuasa kapitalisme. Menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Sepintas, konstruksi tersebut menjadi bagian dari mazhab yang dipercayai dan hidup di tengah kelompok anarko. Analisis situasi mereka ada pada gagasan pokok bahwa situasi pandemi kali ini sudah sampai periode kegentingan revolusioner, saat yang tepat untuk bertindak.

Narasi yang diwacanakan terbilang absurd. Meski ekspresi kesenjangan kelas, kefrustasian sosial, hingga provokasi untuk melakukan rusuh massa nampak jelas ditonjolkan. Faktanya memang terbuka jumlah potensi massif PHK, terjadinya kontraksi ekonomi, hingga bahaya laten krisis multidimensi.

Kelompok penganjur anarkis menyatakan aturan yang dipergunakan adalah tanpa aturan. Gagasan ideal nan-khayal yang tampak gagah --utopia, namun sesungguhnya menuju situasi terburuk-- distopia, karena tidak mampu memahami realita sesungguhnya.

Gagal Nalar

Pandemi ini demokratis. Semua menjadi objek yang setara dan egaliter untuk tertular ataupun menulari. Tidak memandang kelas sosial. Akibat pandemi, juga sama dialami oleh seluruh lapisan sosial, tanpa terkecuali. Semua diharuskan berdiam diri.

Membandingkan situasi krisis sebagai produk pandemi tidaklah serupa dengan berbagai krisis ekonomi yang mendahuluinya. Dimensi krisis akibat pandemi, terjadi dan memiliki karakteristik berbeda.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline