Lihat ke Halaman Asli

Yoppie Christ

Alumni Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB, Peneliti di Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB

Lahir Miskin, Mati Miskin: Dimensi Struktural dalam Kemiskinan

Diperbarui: 8 April 2016   13:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Dok.pri"]

[/caption]Apakah kemiskinan itu diwariskan?

Terdapat satu hal menarik tertulis di kantor sebuah koperasi kredit bersama di Jogja, tulisannya seperti ini: “Lahir Miskin itu Wajar, Mati Miskin itu Kesalahan!” Suatu frase yang bagi saya memberikan sebuah pernyataan bahwa kemiskinan bukanlah sesuatu yang given atau sesuatu yang bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Kemiskinan memiliki sebab di masa lalu, dan ketika seseorang lahir dari sebuah keluarga miskin, pasti ada sebuah penyebab kenapa orang tuanya bisa miskin, namun di sisi lain kemiskinan bisa dihentikan sehingga anak yang lahir dari generasi kedua tidak mewarisi kemiskinan yang sama. Bagaimana caranya, itu adalah pertanyaan berikutnya.

Tentu sangat sulit menerima pernyataan bergaya kolonial yang mengatakan bahwa orang Indonesia itu malas dan penipu sehingga sulit untuk maju dan akan tetap miskin. Jika benar kemalasan adalah penyebabnya maka seorang buruh perahu yang harus ke laut selama delapan jam di antara gelombang untuk memancing ikan-ikan kecil apakah bisa dikatakan malas? Seorang petani kecil mulai berangkat ke sawah jam 6 pagi setelah memberi makan ayam atau kambingnya, di bawah terik matahari seharian, lalu sambil pulang ia menyabiti rumput sebagai pakan ternaknya, menggotongnya dan sampai rumah jam 6 sore, apakah pantas dikatakan malas? Yang seharusnya menjadi pertanyaan, kenapa nelayan itu pulang hanya membawa uang Rp 40.000,- dan petani kecil tadi rata-rata hanya punya uang Rp 600.000 per bulan setelah dipotong sana-sini untuk hutang dan ongkos sawah? Terlalu banyak yang dikeluarkan namun menghasilkan sedikit saja. Ini yang menjadi pokok masalahnya bahwa kemiskinan bukanlah akibat tindakan malas dari individu melainkan ada faktor lain yang menyebabkan mereka tetap miskin yakni struktur yang tidak adil.

Mitos Lingkaran kemiskinan

Ketika suatu masyarakat pinggir hutan diambil tanahnya mereka menjadi miskin, di sini struktur bekerja. Pada saat nelayan tradisional tak pernah mendapat alokasi dalam program pengentasan kemiskinan, di sana terjadi masalah struktural. Saat seorang PRT tak diijinkan berkumpul dan berorganisasi oleh majikannya, di sini ia secara struktural tetap dimiskinkan. Maka jika semua praktik ini dijalankan, niscaya kemiskinan akan abadi dan bahkan diwariskan. Lahir dalam keadaan miskin, dan sampai matipun tetap akan miskin. Lingkaran kemiskinan akan terus berputar jika perspektif yang digunakan hanya pada aspek tingkah laku individu. Kemiskinan terjadi karena ada faktor lain di luar individu, yang lahir dari interaksi dan pola relasi yang dimiliki individu dengan masyarakatnya, bahkan antara masyarakatnya dengan masyarakat lain.

Menurut Soedjatmoko (1983) struktur merupakan pola-pola organisasi sosial yang mantap, luas, stabil dan mampu untuk meneruskan diri (self reproducing) Struktur sosial adalah pola-pola organisasi institusional lintas sektor di suatu masyarakat, sebuah pola hirarki yang tidak setara dan membuat satu pihak tergantung pada pihak lain dan terus dieksploitasi oleh pihak tersebut (Soedjatmoko, 1983. hal. 157-164). Menurut Sukanto (dalam Purwandari, 2011) kemiskinan struktural dapat dikaji melalui unsur-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat yang meliputi: kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi sosial, dan kekuasaan dan wewenang. Dari rumusan tersebut tampak bahwa kemiskinan bukanlah faktor yang dibawa individu dan kelompok kecilnya melainkan akibat dari relasi-relasi yang ada di sekitarnya baik skala lokal maupun global.

Rumusan sosiologis di atas membantah rumusan ekonomi yang sama-sama melihat kemiskinan namun dengan dengan kacamata berbeda karena perspektif ekonomi semata-mata menempatkan perilaku individu dan peran kepemilikan kapital lah yang menciptakan kemiskinan. Dalam studi klasiknya Payne mengatakan bahwa lingkaran kemiskinan ini adalah bersifat internal, berpola sehingga sulit keluar dari sana dan satu-satunya cara lepasnya adalah melalui intervensi pihak luar. Ia menggambarkannya dalam sebuah siklus yang dikenal sebagai The Vicious Cycle of Poverty sebagai berikut:

 [caption caption="Gambar: Lingkaran Kemiskinan"]

[/caption]Siklus dalam lingkaran ini mengabaikan adanya pengaruh dari struktur sosial yang membuat seseorang atau masyarakat terbenam dalam kemiskinan. Namun hal ini dirasa kurang tepat karena bila itu yang menjadi solusi maka yang terjadi adalah ketergantungan baru dan kembali terjadi eksploitasi. Salah satu contoh global adalah dampak revolusi hijau yang sampai saat ini masih membenamkan petani dalam kemiskinan. Revolusi hijau mengubah tatanan pertanian ketika pelaku tingkatan global seperti korporasi bekerjasama dengan negara pro-growth dengan instumen koersifnya yakni militer memaksa petani menerapkan skema revolusi hijau dengan rekayasa lahan, penggunaan pestisida secara ekstensif, penggunaan bibit unggul dan mekanisasi. Hasilnya adalah hancurnya kualitas tanah, ketergantungan petani terhadap pupuk tinggi, kemampuan menabung rendah dan berhutang terus menerus sehingga sulit petani untuk kembali berdaulat (Sutrisno, 2002). Dalam skala kecil, nelayan tradisional terus terjebak dalam patron-klien abadi, buruh tani terjebak dalam ketergantungan mutlak pada pemilik tanah, petani muda berakhir di sektor informal perkotaan, perempuan terdesak dengan double burden dan rentan kekerasan, dan lain-lain.

Struktur yang membebaskan

Lalu bagaimana cara lepas dari struktur penindasan ini? Soedjatmoko menandaskan bahwa yang dibutuhkan adalah: (a) keluar dari isolasi, membangun jaringan ; (b) pengembangan diferensiasi struktural yakni spesialisasi lembaga dan keaktifannya; (c) mengatasi kekakuan (rigidity) dan meningkatkan keluwesan (flexibility) sistem sosial menjadi lebih terbuka sehingga mengurangi batasan-batasan sosial; dan (d) penguatan sentralitas atau pemusatan kuasa. Pengorganisasian dan pengembangan pranata diyakini menjadi pembebas atas lingkaran kemiskinan itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline