Lihat ke Halaman Asli

Yoppie Christ

Alumni Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB, Peneliti di Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut IPB

Pandhita Durna jadi Raja

Diperbarui: 26 Juni 2015   08:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

12982845431032438619

[caption id="attachment_92208" align="alignleft" width="300" caption="Sang Guru Tenggelam (static.guim.co.uk)"][/caption]

Siang itu panasnya Hastina tak ketulungan, bukan hanya karena kemarau panjang melainkan karena kejadian luar biasa yang terjadi seminggu lalu tepatnya. Dari mulai celeng yang tak makan sekolahan, kambing tengik, rampok kecu, pemerkosa, sampai mahasiswa kos-kosan bergaya punk pun terkaget-kaget setengah mati dengan apa yang terjadi di negeri ini. Yang tak kaget cuma cantrik dan kroni sang Durna karena mereka tahu apa yang terjadi, bahkan bergembira ria, penuh tempik sorak, meneriakkan gema kemenangan khasnya, ”... tuhan maha besar!!!”

Situasinya dimulai ketika Prabu Duryudana yang naif dan pesolek disingkirkan melalui kudeta berdarah yang dilancarkan oleh Pandhita Durna, sang gurunya sendiri, si penjaga akhlak, pengawal moral, pemegang akidah yang kuat, pemuka agama terbesar di negeri Hastina. Pokoknya semua cap sebagai wayang nan suci tanpa dosa ada padanya, tapi apa yang dilakukannya mau tak mau membuat para wayang (baca;orang) terperangah tak percaya. Setan iblis apa yang masuk ke dalam kepala si Pandhita Durna ini. Masak ya ada seorang penasehat spiritual yang terkenal bijaksana kok menyingkirkan anak muridnya sendiri? Itu pun sudah aneh, apalagi malah madeg Ratu alias menjadikan dirinya sendiri sebagai Raja...opo tumon?

Polisi dan ormas pembawa maut ciptaan sang pandhita telah membantai puluhan orang yang menolak pengambilalihan kekuasaan. Sang Pandhita naik kekuasaan di atas genangan darah dan puing-puing kehancuran manusia dan bangsanya sendiri namun tak ada yang bergerak menahannya, melongo, antara kaget dan tak siap. Maka tak lama, Pandhita telah menempati dampar kencana Raja Hastinapura. Situasi segera dipulihkannya dengan cepat di bawah kibaran panji Pandhita Durna, sang pembawa pedang keadilan dan moral.

----------

Maka pagi ini, Tina Varises, reporter dari Setu Wage TV yang terkenal dengan tungkai indahnya tergesa-gesa menuju ke Istana Merdeka tempat Raja Durna memimpin negara untuk sebuah sesi wawancara eksklusif dengan sang Raja baru. Kok bisa? Ya bisa...lha wong yang punya Setu Wage TV juga penggede kerajaan yang oportunis kok, cukup kirim sms ke Durna..ting, sesi wawancara eksklusif didapat. Lumayan buat ngangkat rating dan narik iklan!

Maka ketemulah mereka di Ruang Oval Istana Merdeka yang megah, di sebuah sofa empuk dan hanya ditemani oleh sang cameraman. Seperti inilah wawancara mereka:

Tina Varises (TV): "Selamat pagi Pandhita Durna. Pertama-tama saya ucapkan selamat atas posisi baru pandhita sebagai Raja Hastina."

Pandhita Durna (PD): "Selamat pagi Dik Tina, terimakasih atas ucapannya, Anda membuat pagi di istana ini jadi cerah dan terang benderang dengan busana Anda ini!" (matanya sepintas melirik cepat dada sehat Tina)

TV: ”Begini pandhita, saat ini mungkin banyak orang bertanya-tanya mengenai suksesi kepemimpinan yang tak disangka-sangka ini. Apa latar belakang Anda akhirnya mengambil kekuasaan dari Prabu Duryudana?”

PD: ”Begini, dasarnya ini adalah amanah dari rakyat... bahwa kondisi negara ini sudah ancur-ancuran, moral bangsa ini sudah jatuh terlalu dalam, kebejatan melanda, pornografi sudah jadi kitab suci, ajaran sesat di mana-mana, dan kelompok minoritas mulai berkonspirasi melakukan aksi demoralisasi. Apa yang dilakukan Duryudana selaku raja? Tidak ada..dia menganggap itu semua adalah dinamika masyarakat terbuka dan dampak globalisasi, maka biarkan mekanisme alami memfilternya. ”Apa-apaan itu! Jelas saya dan kawan-kawan tak bisa menerima jawaban seperti itu.”

TV: ”Kalau boleh tahu, rakyat yang mana yang memberi Anda amanah itu pandhita?”

PD: ”Tentu saja rakyat yang menginginkan berdirinya moralitas di atas segalanya, banyak dari mereka datang dan berkeluh kesah pada saya mengenai kondisi negara ini. Mereka prihatin tapi negara sama sekali tak menggubrisnya.”

TV: ”Tapi kenapa cara yang Anda pakai inkonstitusional? Bukankah Anda sebagai penasehat spiritual Raja Duryudana bisa memberi saran? Dan lagipula DPR kan bisa digunakan untuk pemakzulan jika memang raja dianggap melanggar kehormatan dan tak bisa bekerja.”

PD: ”Sudah 20 tahun saya memberi saran pada Sang Prabu Duryudana tapi tak pernah digubris oleh raja neolib itu. Nah..kalau DPR tuh kerjanya apa? Korupsi saja kerjanya..mereka cuma mikir kantong duitnya sendiri, mereka juga ngga bermoral. Maka tinggal kaum pandhita lah yang bisa membangun Hastina baru sekarang, di tangan kami lah jalannya negara ini bisa diluruskan kembali.”

TV: ”Lalu apakah dengan alasan moral itu Anda bisa dan merasa benar jika melakukan tindakan inkonstitusional?”

PD: ”Sekarang siapa yang lebih berkuasa, tuhan atau konstitusi? Saya menjalankan tugas suci dari tuhan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar di dunia, sementara konstitusi itu kan buatan manusia. Bisa dikalahkan oleh kuasa tuhan!” eheem...(berdeham untuk mengalihkan perhatian, melirik celah rok Tina saat Tina memperbaiki duduknya. Ser..!)

TV: ”Apa agenda Anda dalam waktu dekat untuk membangun Hastina baru seperti Anda katakan tadi?”

PD: ”Yang pertama adalah Reshuffle kabinet, semua akan diisi oleh para pandhita, bukan dari partai atau akademisi. Kedua adalah pembubaran parlemen, saya cukup diawasi tuhan saja, tidak perlu itu parlemen. Lalu program di masyarakat adalah pembagian amal jariyah untuk orang miskin, pemotongan pajak untuk orang kaya, pembredelan ajaran minoritas yang sesat dan merusak umat, serta memberantas pekat alias penyakit masyarakat.”

TV : ”Apakah pihak militer mendukung kebijakan Anda pandhita?”

PD: ”Tentu saja mereka harus mendukung saya, jika tidak, laknat dosa dan kutukan akan saya limpahkan pada mereka karena menentang berdirinya iman dan kesucian negara. Militer akan saya ubah jadi Tentara Penjaga Iman, polisi akan jadi pengawal saya seperti SS punya Hitler itu.”

TV: ”Anda juga akan lakukan hal yang sama dengan media?”

PD: ”Oh..Tidak, media tetap akan saya biarkan karena toh media itu menguntungkan untuk membangun rasa takut dan bingung di kalangan rakyat Hastina ini. Lagian kan negara ini harus tetap tampak demokratis.” (sambil berbisik...mau ngga kalau dik Tina saya angkat jadi wartawan istana? ehm..ehm..)

TV: (Terimakasih tawarannya, akan saya pertimbangkan pandhita -off the record-) ”Kemudian, apakah Anda yakin dengan konsep teokrasi otoritarian ini dapat dijalankan di negeri Hastina yang merupakan masyarakat bhinneka ini?”

PD: ”Kenapa tidak, organ politik penebar ketakutan saya sudah tersebar di masyarakat, siap memaksa masyarakat jadi pengikut saya, jika tidak mau maka hidup mereka akan terasa sebagai mimpi buruk. Sekarang rakyat ini miskin, butuh makan, dengan kemiskinan akut itu apa lagi yang bisa mereka perjuangkan? Dengan ikut saya, mereka akan mendaptkan keterpenuhan secara ekonomi dan juga ketaatan imani. Tak akan ada kebejatan dan anarkisme lagi di dalam cahaya tuhan lewat pedang saya ini!”

Setelah berlangsung selama kira-kira 2 jam, wawancara ekslusif itu berakhir. Tina meninggalkan istana Prabu Pandhita Durna. Durna mengantarnya sampai ke depan sambil terus memandangi bokong ramping padat milik sang reporter sampai hilang di balik mobilnya.

”Ya tuhan, dampingilah saya untuk membangun negeri ini,” gumam Durna lalu masuk ke gandok untuk melanjutkan doanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline