Lihat ke Halaman Asli

Yon Bayu

TERVERIFIKASI

memaknai peristiwa dari sudut pandang berbeda | menolak kampanye kebencian atas nama agama

Salah Kaprah Muhaimin Soal Sebutan "Gus"

Diperbarui: 4 Desember 2018   20:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Muhaimin Iskandar. Foto: KOMPAS.com/Achmad Faizal

Munculnya sejumlah orang dengan gelar santri dan "Gus" rupanya mendapat perhatian serius Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Namun mengapa calon wakil presiden Sandiaga Uno dan Ketua Umum Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang menjadi sasaran?

Menurut Muhaimin fenomena munculnya sebutan santri dan "Gus" sebagai upaya tokoh politik menjaring pendukung. Mereka menggunakan simbol agama yang dianggap paling mudah menyentuh pemilih baik di pentas pemilu legislatif maupun presiden. 

Simbolik yang paling mudah, kata Cak Imin,  adalah agama, karena mudah menyambung dengan psikologi massa sekaligus praktik keagamaan sehari-hari. 

Sayangnya, gus-gus baru atau gus milenial ini, tidak dibekali dengan ilmu agama yang mumpuni. Muhaimin lantas mencontohkan label gus yang disematkan kepada Tommy Soeharto dan label santri post-modernis yang diberikan Presiden PKS Sohibul Iman kepada Sandiaga Uno.

Muhaimin juga menyoroti munculnya kiai baru yang tidak memiliki ilmu agama yang mendalam. Wakil Ketua MPR ini lantas mengajak masyarakat untuk mengikuti kiai yang benar-benar memiliki ilmu agama mendalam.  Kiai dengan ilmu pas-pasan sangat berbahaya karena ilmunya masih sebatas untuk menyalahkan orang lain.

Benarkah sebutan "Gus" hanya untuk mereka yang memiliki kedalaman ilmu agama Islam?  Bisa benar, namun bisa juga keliru. Sebab "Gus" merupakan kependekan dari bagus yang dalam bahasa Jawa bermakna luas yakni baik, pintar, ganteng. Panggilan "Gus" khusus untuk anak laki-laki yang di dalamnya mengandung pujian dan doa.

Awal munculnya panggilan ini berasal dari dalam keraton untuk panggilan anak-anak keluarga raja yakni raden bagus yang disingkat den bagus. Lama-lama panggilan itu dipakai juga oleh kalangan priyayi Jawa di luar keraton namun dengan menghilangkan raden sehingga tinggal bagus atau "Gus".

Dalam perkembangannya, "Gus" menjadi panggilan wajib untuk anak laki-laki pemilik pondok pesantren atau anak kyai kharismatik (khos) jauh sebelum organisasi Nahdlatul Ulama (NU) berdiri . Panggilan "Gus" perlahan menjadi semacam gelar bagi anak-anak kiai terutama di kultur NU.  

Kini sebutan "Gus" menjadi simbol ketokohan seseorang dari sisi agama, namun khusus di kalangan NU. Artinya mereka yang memiliki kedalaman ilmu agama, umumnya dipanggil "Gus" oleh Nahdliyin meski dirinya bukan anak kiai atau pemilik pondok pesantren. Tidak mengherankan jika seseorang yang dipanggil "Gus" sangat dihormati karena dianggap memiliki kedalaman ilmu agama Islam. 

Hampir semua tokoh  NU, terutama yang muda, mendapat panggilan"Gus". Tokoh yang telah mengangkat sebutan "Gus" ke pentas nasional adalah Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Jadi awalnya panggilan "Gus" tidak mencerminkan ketokohan apalagi kedalaman ilmu agama yang dimiliki. Saat ini pun, di sejumlah keluarga priyayi di Jawa masih menggunakan panggilan gus untuk anak laki-lakinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline