Lihat ke Halaman Asli

Yonathan Christanto

TERVERIFIKASI

Karyawan Swasta

#ReleaseTheSnyderCut di Tengah Kebutuhan dan Keharusan yang Kini Menemukan Momentumnya

Diperbarui: 15 November 2019   17:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar:Change.org/Jason Maher

Jika ada yang bingung dengan judul tulisan yang mengandung tagar ini, cobalah main sebentar ke laman Twitter dan ketikkan tagar tersebut. Ya, Anda pasti akan menemukan banyak konten yang berhubungan dengan film Justice League yang dirilis di tahun 2017 silam.

Tagar ini sempat jadi trending topic dunia sekitar 2 hari yang lalu yang lantas menjadi semacam bukti terkait rasa haus para fans DC terhadap film Justice League "sebenarnya" yang mereka idam-idamkan.

Adalah sutradara Zack Snyder yang pertama kali ditunjuk oleh studio Warner Bros untuk menahkodai film ini di tahun 2017 silam. Di mana sekaligus menjadi lanjutan atas dua film ambisius yang dibesutnya yaitu Man of Steel dan Batman V Superman: Dawn of Justice.

Zack, yang melalui Man of Steel -ya berhasil membuka semesta DC yang kemudian kita kenal sebagai DC Extended Universe, lantas memiliki ide kreatif yang membuat DCEU tampil berbeda karena lebih dewasa, kelam, dan kental akan nuansa pencarian jati diri para adisatrianya. 

Hal itu jugalah yang lantas tetap dipertahankan pada film-film DCEU lainnya yaitu Suicide Squad dan Wonder Woman.

Zack Snyder (Sumber gambar: Warnes Bros via inverse.com)

November 2017 pun kemudian dipilih menjadi bulan penayangan Justice League. Film yang lantas diproyeksikan sebagai kulminasi atas ide-ide Snyder terhadap Trinitas DC (Batman, Superman, Wonder Woman) sekaligus pembuka jalan bagi proyek solo DC lainnya di masa depan.

Namun sebuah kabar duka yang menyelimuti keluarga Zack Snyder di bulan Maret 2017, lantas menjadi sumber dari segala perombakan total yang dilakukan studio untuk DCEU. Kematian sang anak lantas sangat membuat Zack Snyder terpukul.

Snyder memang butuh waktu untuk bisa menenangkan dirinya sebelum kembali duduk di kursi sutradara untuk menyelesaikan film yang konon sudah mencapai 70% itu. Namun alasan deadline produksi lah yang lantas membuat studio kemudian menggantinya dengan Joss Whedon (Avengers,Avengers: Age of Ultron).

Kritikan terkait kelamnya tone pada film-film DCEU dan nilai pedas dari kritikus itulah yang pada akhirnya juga memengaruhi kepercayaan studio pada visi Snyder. Sutradara diganti, maka visi pun berganti. Dan sudah pasti, reshoot pun dilakukan demi memenuhi visi sang sutradara baru.

Ray Fisher, aktor yang adegannya paling banyak dibuang (Sumber gambar:screenrant.com)

Proses reshoot beberapa adegan itulah yang pada akhirnya membuat film ini dirilis dengan hasil yang berbeda, pun dengan budget yang jadi membengkak 2 kali lipat. 

Whedon yang jauh lebih slengean jelas cukup mengubah penggambaran karakter yang sudah dibangun cukup solid oleh Snyder melalui jokes yang dibentuk hampir mirip dengan apa yang dilakukannya di Avengers.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline