Lihat ke Halaman Asli

I Putu Yoga Purandina

Dosen Jurusan Dharma Acarya STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Menjadi Pahlawan di Tengah Pertempuran Melawan Kebatilan (Adharma)

Diperbarui: 10 November 2021   17:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hari Pahlawan Nasional selalu kita peringati setiap tangal 10 November setiap tahun. Begitu pula tahun ini, kita peringati hari pahlawan masih dalam kondisi Pandemi COVID-19. Dengan tema Pahlawanku Inspirasiku sesungguhnya sudah sangat tepat, dengan tujuan rasa dan semangat perjuangan dapat menginspirasi setiap insan masyarakat.  

Semua orang harus mampu memperjuangkan diri pada kondisi yang kurang menentu ini. Sebagai bagian dari masyarakat kita tidak boleh larut dalam kebingungan, ketidakpastian, dan terpuruk begitu saja meratapi nasib. Kita harus bergerak, bahu membahu menolong sesama, bekerja sama, gotong royong untuk menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi.

Kata Pahlawan yang dipahami oleh masyarakat memang masih sangat berat untuk dicerna. Pahlawan memiliki arti sebagai seorang tokoh sentral yang memperjuangkan kebaikan bagi masyarakat banyak. Hal ini tidak terlepas dari budaya dan sejarah bangsa Indonesia sendiri. 

Sedari kecil kita telah diperkenalkan berbagai dongeng, cerita rakyat tentang epos-epos perjuangan atau pahlawan. Begitu pula sejarah bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari penjajah. Semuanya memang tinggal cerita. Kondisinya semakin menipis di ingatan para penerus bangsa. Sehingga semangat-semangat perjuangan ini hanyalah jauh di angan-angan semata.

Begitu pula cerita dalam film yang mempertontonkan aksi-aksi heroik yang diahiri dengan kemenangan pihak protagonis. Akhir yang indah dari setiap cerita, membuat penonton terbang ke dunia hayal yang menjadikan diri mereka sebatas pengagum dan menjadi hiburan belaka. 

Hampir tidak ada yang bermimpi menjadi seorang pahlawan, kecuali anak kecil. Memang sejatinya tidak ada orang yang terlahir untuk menjadi pahlawan. Tidak ada pula yang menyebut dirinya sebagai pahlawan. Istilah pahlawan disematkan oleh orang lain yang merasa hak-haknya diperjuangkan oleh sang pahlawan.

Dengan kata lain, kita sejatinya telah kenyang dengan cerita-cerita kepahlawanan tersebut. Jangan hanya dinikmati, disimpan di dalam pikiran, namun harus diturunkan dan ditumbuhkan ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Denyut nadi memompa seluruh jiwa dan raga, dialiri dengan semangat perjuangan. 

Otak dan otot harus selaras bergerak, berjuang, memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Di era kekinian, perjuangan menjadi semakin kompleks. Tidak hanya memperjuangkan hak dasar manusia. Namun berbagai permasalahan baru yang semakin meraja lela.

Sehingga ke depannya, tidak ada lagi istilah manusia super layaknya tokoh dalam komik. Namun manusia mejalin kerja sama, secara berjejaring, bergotong royong, mengkolaborasikan lelebihan masing-masing, mengisi kelemahan dengan kebermanfaatan dalam menghadapi permasalahan. 

Tidak ada perjuangan sendiri-sendiri pada saat ini. perjuangan haruslah dilakukan secara bersama-sama. Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam memperjuangakan kehidupan ini. Setiap orang berhak menjadi pahlawan. Paling tidak untuk dirinya sendiri, orang terdekat, keluarga, masyarakat sekitar, serta lingkungan yang lebih luas.

Memang tidak semudah itu untuk menjadi pahlawan. Pahlawan harus memiliki nilai-nilai yang adiluhung. Berani melawan kebatilan (Adharma), rela berkorban untuk kepentingan orang banyak untuk membela kebajikan (Dharma), serta berjuang dengan gagah berani. Sebagai insan masyarakat, kita hendaknya mampu mengilhami nilai-nilai ini sebagai tindak-tanduk dalam melakukan berbagai interkasi di tengah-tengah masyarakat. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline