Lihat ke Halaman Asli

H.Sabir

Lakum Dinukum Waliyadin

Toleransi ala Telorasin Rasa Bipang

Diperbarui: 9 Mei 2021   16:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Sore itu menjelang waktu berbuka puasa untuk Jakarta dan sekitarnya. matahari mulai perlahan memerah di ujung langit.  Bergegas saya mengelilingi wilayah kebagusan untuk sekedar berburu takjil, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah warung makan jelas terpampang banner diterasnya "Restauran Panada". Masakan Manado pikirku?.

Akupun menepikan motorku, sudah  lama saya tidak mencicipi kue khas Daerahku itu. Setibanya disitu saya mengucap salam lalu masuk menemui pemilik restauran. didalam ada sepasang orang tua mungkin umur mereka sudah 60an ke atas.

Agak tergagap mereka menyambutku, mungkin jilbab istriku membuat mereka sungkan menawarkan jajanannya. Sayapun menanyakan daerah asal mereka. Dengan dialek Manado agar mereka terlepas dari kegugupannya. "Torang dari Sonder, angko dang? Jawab mereka berbarengan sambil menyusulku dengan pertanyaan yg sama. Hangat, damai dan bersahabat menyelimuti suasananya kini.

"Kita dari Kota". Jawabku dan ini istriku dia orang jawa. Ucapku sembari memperkenalkan istriku.

"Masih ada Kukis Panada?" Tanyaku kemudian. "Oh ada ini Panada isi cakalang," jawab Opa itu sambil menunjuk kue yg tersaji di meja jajanannya.

Kakek ini secara tersirat ingin menjelaskan bahwa Panadanya halal untukku. Sayapun mengerti dan mengatakan "iyo opa, kitaley blum pernah dapa panada isi ikang ba". Pukasku sambil tersenyum." Kalu biapong ba" baru ada" tambahku sambil tertawa.

Akhirnya kamipun akrab dan saling berbagi pengalaman sejenak, tentang kisah kami masing2 hingga menetap di Jakarta.

Saat saya pamit karena memburu waktu berbuka yg hampir tiba. Dipenghujung pembicaraan si Oma pun agak berbisik pada suaminya, agar memberikan kami kue Biapong secara gratis untuk dijadikan takjil kami.rupanya oma paham aku agak curiga dengan isi bakpaonya, sehingga tidak berminat untuk membelinya.

Dengan tulus dia menyodorkan Bakpao sembari meyakinkan saya, bahwa ini bukan biapong ba' bawa saja untuk disantap waktu berbuka.. Alhamdulillah ucapku. Semoga tuhanmu memberkati mu, ucapku berterima kasih.

Begitulah kisah toleransi bagi saya, bukan tentang seorang yang mengaku kiay kemudian masuk ke gereja lalu berceramah tentang persamaan semua agama. Atau seorang pendeta yg dengan cerdas mengutip ayat Alquran lalu berpidato di mimbar masjid.

Sebab kita semua tahu, bagi kita masing2 agama apapun itu yang kita anut adalah paling benar dan lainnya adalah kafir. Sebab jika saja kiyai itu meyakini bahwa agama semua sama, pasti tak sungkan dia menambahkan "Haleluya" dipenghujung ceramahnya. Atau si pendeta jika dia meyakini kebenaran Alquran pastilah dia langsung wudhu dan ikut solat berjamaah saat itu juga.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline