Lihat ke Halaman Asli

Ambulan Zig Zag dan Suster Apung

Diperbarui: 26 Juni 2015   03:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Deru ambulan memasuki pelataran rumah sakit yang putih berkilau Di dalam ambulan tersebut tergolek sosok tubuh gemuk bergelimang perhiasan Nyonya kaya pingsan mendengar kabar putranya kecelakaan Dan para medis berdatangan kerja cepat, lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa Tanpa basa basi, ini mungkin sudah terbiasa Tak lama berselang supir helicak datang, masuk membawa korban yang berkain sarung Seluruh badannya melepuh akibat pangkalan bensin ecerannya meledak Suster cantik datang mau menanyakan, dia menanyakan data si korban Dijawab dengan jerit kesakitan, suster menyarankan bayar ongkos pengobatan Ai... sungguh sayang korban tak bawa uang Suster cantik ngotot lalu melotot, dan berkata “Silahkan bapak tunggu di muka!” “Hai modar aku, hai modar aku...” jerit si pasien merasa kesakitan “Hai modar aku, hai modar aku...” jerit si pasien merasa diremehkan

(Iwan Fals - Ambulan Zig Zag)

Memang begitulah pemandangan yang umum terjadi di sebagian besar rumah sakit di republik ini. Sebuah pemandangan yang hari ini telah menjadi keniscayaan. Aspek kualitas pelayanan sangat jarang diperhatikan dan bukan menjadi prioritas, justru pelayanan tersebut secara habis-habisan didiversifikasi dan dikuantifikasi. Dan entah kenapa praktek semacam ini menjadi lumrah di sektor kesehatan publik.

Tujuan pendirian rumah sakit itu sendiri adalah sebagai sentral pelayanan kesehatan (terutama kuratif dan rehabilitatif) bagi masyarakat disekitarnya. Paradigma yang dikembangkan dalam tradisi seni pengobatan menjadi karakteristik khas yang seharusnya ada pada setiap aktivitas RS. Pasien adalah manusia yang setara kedudukannya secara fitrawi dengan dokter dan paramedik lain, sehingga relasi yang terbangun antar mereka mestinya bersifat humanis, bukan eksploitatif. Dalam harapan banyak orang, ketika masuk rumah sakit kita akan mendapat pengobatan dan perawatan yang baik sehingga dapat segera sembuh dan sehat kembali.

Meski masalah pembangunan sektor kesehatan ini tak lepas dari pembangunan di sektor lain (ekonomi, politik, hukum, dan budaya), namun diskriminasi dalam hal pelayanan ini tak seharusnya menjadi pemandangan yang lumrah. Jika kita bawa pada paradigma kedokteran, maka konsepsi dunia kedokteran (humanisasi, sosialisme, penghargaan atas setiap nyawa, pembelajaran dan peningkatan kualitas hidup, keseimbangan hak dan kewajiban tenaga medis dengan pasien dan sebagainya) seyogyanya harus sepadan dengan realitas yang terjadi pada masyarakat kita dewasa ini.

Suster Apung

Adalah Hj. Andi Rabiah (54 tahun) yang kemudian mendapat julukan “Suster Apung”, salah satu perawat yang mendedikasikan hidupnya untuk membantu sesama di daerah kepulauan. Beliau mendapat julukan suster apung karena hampir setiap hari selama lebih dari 30 tahun, beliau mengabdikan dirinya bagi masyarakat di Kepulauan Liukang Tangaya, selatan Pulau Sulawesi dekat perairan Laut Flores. Setiap hari Rabiah mengarungi lautan luas menuju pulau yang satu ke pulau yang lain, dan jarak yang ditempuh minimal tiga jam. Ibu dari empat anak ini telah menjanda sejak tahun 1990.

Sama sekali tidak pernah terbesit di dalam pikirannya bahwa ia akan menghabiskan separuh hidupnya mengarungi lautan di Kepulauan Sulawesi dan Flores untuk menyembuhkan pasien-pasien yang tersebar di sekitar pulau-pulau kecil dengan hanya berbekal tekad dan perahu. Tak jarang beliau melakoni misi mulia ini dengan berperan ganda, yaitu sebagai perawat, dokter, sekaligus bidan. Dia mengakui bahwa dalam menjalankan tugasnya, kesulitan terbesarnya adalah berhadapan dengan persalinan. Hal ini dikarenakan beliau tidak memiliki keahlian di bidang kebidanan dan fasilitasnya pun kurang memadai.

Sempat mengalami frustasi ketika beliau merasa ditipu dan dibodohi oleh Soetrisno Bachir, karena beliau sama sekali tidak mengetahui film dokumenter yang dibintanginya akan menjadi iklan politik untuk kampanye. Gajinya pun sebagai tenaga medis sering kali terlambat dibayar, bahkan mungkin tak terbayarkan dibanding resiko yang dihadapi dan dedikasinya yang luar biasa. Namun pikiran-pikiran untuk meminta kenaikan gaji sama sekali tak terbersit, Rabiah malah meminta sarana pengobatan yang lebih memadai agar dapat lebih baik menolong orang lain. Walhasil, beliau pun mendapat sumbangan berupa “ambulan apung” atas dedikasi dan perjuangan beliau yang tak kenal lelah.

Rabiah adalah sosok pribadi yang bekerja tanpa pamrih dan senantiasa mengandalkan rasa kemanusiaannya dalam menjalankan tugas. Sebagai perawat, prinsip yang beliau pegang yaitu bekerja sebagai pelayanan dan tanggung jawab kepada masyarakat. Ia memandang bahwa mereka juga saudara kita dan rakyat Indonesia berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Meski kerap dilanda kesulitan dalam menjalankan tugas sucinya, namun tekad beliau yang dilandasi semangat pantang menyerah pada keterbatasan dan berguna bagi masyarakat sekitarnya menjadi penegas bahwa entitas seorang dokter memang harus mempertemukan konsepsi kedokterannya dengan realitas masyarakat di sekitar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline