Lihat ke Halaman Asli

Ina Tanaya

TERVERIFIKASI

Ex Banker

Jadikan Titik Nadir Sebagai Pembangkit Fondasi

Diperbarui: 14 Juli 2019   21:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

SantapanPagi.com

Tidak semua orang mengalami titik nadir.  Tetapi bagi mereka yang menghadapi titik nadir kehidupan, merasakan betapa mereka berada dalam posisi titik paling rendah, titik dimana rasa "manusia" dipertanyakan.

Ketika manusia sudah di tempat titik nadir, ada yang merasa sangat depresi karena tidak mengetahi apa yang harus diperbuatnya seolah semua jalan kelihatan buntu.  Tidak melihat titik terang dari permasalahan yang dihadapi.

Ketika manusia sudah di tempat titik nadir, ada yang merasa lebih baik menyendiri . Menyendiri atau menyembunyikan diri dari lingkungan sosial, keluarga .  Seolah kesunyian itu dapat menghibur dirinya untuk kontemplasi yang sangat lama.

Ketika manusia sudah berada di titik nadir, ada yang hibernasi.  Menurut kamus KBBI, hibernasi adalah keadaan istirahat atau tidur pada binatang selama musim dingin. Lalu bagaimana dengan kondisi manusia?  Manusia yang coba menyembunyikan masalah dengan tidur berkepanjangan.  Apakah masalah selesai dengan tidur?  Setelah bangun manusia masih menghadapi masalahnya.

Ketika manusia sudah berada di titik nadir, ada yang melampiaskannya dengan makanan, berbelanja sepuas-puasanya.   Belanda dan makan sepuas-puasnya itu bukanlah solusi tepat untuk masalah berat.  Semakin makan banyak atau belanja banyak, justru timbul masalah lain . Berat badan bertambah dan uang habis tanpa tujuannya.

Tinggalkan kebiasan diri untuk melampiaskan titik nadir dengan cara di atas itu.  Titik nadir atau titik nol bukan dijadikan alasan untuk berdiam diri , mengurung diri , meratap kesedihan akan nasib yang tidak berpihak kepadanya.   Tetapi bangkitlah dari titik nol sebagai landasan atau fondasi .

Fondasi itu perlu dibangun dengan menentukan langkah-langkah yang sangat praktis sebagai berikut ini:

ACTION

Menerima kenyataan apa yang terjadi pada diri kita. Misalnya kebakaran rumah dan meludeskan semua harta benda,   kehilangan pekerjaan karena kantor bangkrut,  ayah dan ibu bercerai dan anak-anak tidak bisa bersekolah karena ibu tidak bekerja,  Ayah yang tidak bekerja dan tidak bertanggung jawab sehingga anak tidak bisa bersekolah.

Semua kejadian itu bisa saja terjadi kepada kita tanpa direncanakan.  Apabila terjadi maka kita harus menerima kenyataan dengan lapang dada. Jangan "denial" atau tidak mau menerima kenyataan. Tidak perlu mempertanyakan siapa yang salah.  Jangan justru mengatakan "Ach aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi dengan keluargaku.  Membohongi diri sendiri itu  dapat membuat sakit dalam diri kita sendiri.

BANTUAN

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline