Lihat ke Halaman Asli

Wuri Handoko

TERVERIFIKASI

Peneliti dan Penikmat Kopi

Cerpen | Arini, Kereta Senja Kita Sudah Lewat

Diperbarui: 25 Juni 2021   20:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Stasiun Kereta Senja. Sumber: sahadbayu.com

Arini, iya wanita itu namanya Arini. Wanita yang kukenal, tidak lama setelah waktu menjatuhkan sanksi atas kecerobohan kami. Pada sebuah stasiun kereta yang sunyi dan sepi karena pandemi. 

Aku mengenal Rini, tepat di sebuah bangku panjang, pada waktu yang sangat menentukan. Saat kami saling memunggungi, lalu tanpa sengaja saling berbalik dan saling memandangi pada sudut-sudut terdalam mata kami. 

Lalu entah kenapa, pandangan kami tiba-tiba saling menikam hati. Kemudian, kami secara bersamaan jatuh dalam pelukan dan dekapan. Pertemuan, yang dikemudian hari menjadi sejarah yang paling menakutkan dalam kehidupanku pada hari-hari berikutnya.

***

Aku mengenal Arini, dalam sebuah rencana perjalanan Yogyakarta- Jakarta yang gagal. Kegagalan yang kemudian kami rencanakan berulang-ulang pada tempat dan jam yang sama. Rencana kegagalan dalam semalam perjalanan, yang kami jadwalkan hari-hari berikutnya. 

Hari-hari yang selalu kami lewati di stasiun pada petang hari, dan di sebuah tempat sangat asing untuk kami sembunyi dan lari di setiap malamnya, selama kurang lebih sepekan itu. 

Sepekan yang paling kelam, dalam kehidupanku pada malam-malam pada setiap akhir pekan berikutnya. Saat aku libur akhir pekan, setelah dirundung kepenatan Jakarta.

Sebelum ketemu Arini, aku yang bekerja di Jakarta, biasanya mudik ke Yogyakarta di hari jumat siang, dan minggu malamnya, kembali ke Jakarta. Namun, kebetulan saat ketemu Arini, aku harus kembali ke Jakarta pada jam keberangkatan kereta di hari sabtu petang, tepat saat langit menjatuhkan senjanya yang jingga. 

Jam keberangakatan yang tidak biasa, karena mendadak, manajer memanggilku untuk segera ke Jakarta, karena hari minggu pagi diminta menjemput tamu perusahaan. 

Semua waktu seperti kebetulan dan semuanya seperti direncanakan untukku, sampai secara tak sengaja aku bertemu Arini sabtu petang itu, dan membuyarkan rencana, dan dengan segala resiko aku dipindahkan ke bagian pemasaran, karena dianggap tidak taat sama manajer perusahaan tempatku bekerja. Karena terlambat sampai ke Jakarta. Itu semua karena Arini.

****

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline