Lihat ke Halaman Asli

Anies Baswedan dan Kekalahan Prancis

Diperbarui: 28 Juli 2016   08:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lengsernya Anies Baswedan dari tampuk kepemimpinan Dinas Pendidikan ibarat kekelahan Prancis pada laga final Euro 2016. Prancis, dengan berjubel harapan dari para pendukungnya, harus rela menelan kenyataan pahit direshufle Portugal pada babak tambahan partai final. Dengan skor tipis. Dikandang sendiri.

Tentu itu catatan patut dikenang. Mengingat, prancis merupakan tim dengan riwayat host pertandingan mayor yang mumpuni. Menjadi juara dua kali. Yakni Euro 1984 dan Piala Dunia 1998. Dikalahkannya Prancis pada babak ekstratime dengan skor minimalis 0-1 adalah hal terburuk. Ekspektasi yang meleset dari prediksi seluruh masyarakat di dunia (kecuali pendukung Portugal).

Pada euro 2016, Portugal bukanlah tim yang bagus-bagus amat. Tim asuhan Fernando Santos bahkan menjadi satu-satunya tim yang lolos babak 16 besar tanpa menoreh kemenangan sekalipun. Namun, parahnnya, mampu mereshufle Prancis--yang sejak awal hingga akhir turnamen bermain maksimal—pada partai yang sangat menentukan. Partai final. 

Seperti itulah kenyataan. Apapun yang dianggap manusia sebagai sesuatu terbaik, toh takdir terkadang meleset dari apa yang diangankannya. Tim asuhan Didier Deschamps yang ibaratnya tingggal sak-cret memenangkan final, harus rela terkapar kalah dari tim yang jauh dari ekspektasi menang. Anies yang dianggap menjadi sosok reformis dunia pendidikan, harus diganti. Dengan pengganti yang—saya pun tidak mengenalnya.

Sejak kemarin siang (27/7), ruang kerja yang biasanya ceria, mendadak menjadi lahan kecemasan bagi kami. Lebih tepatnya kawan saya. Kemuraman tergambar jelas dari sorot wajah saudara se-perkonco-an saya itu. Saat menatap wajahnya, saya semacam merasakan huzun dalam kisah Istanbul: Memories And the City yang ditulis Orhan Pamuk. Muram yang mengharubiru.

Bagi kawan saya, dilesehkannya Anies Baswedan dari jabatan menteri pendidikan nasional adalah kesalahan terbesar Pemerintah Indonesia abad ini. Hilangnya Anies-- yang bagi kawan saya menjadi sosok reformis progresif di Kabinet Kerja Jokowi – JK-- menjadi simbol hilangnya jiwa muda dengan inovasi yang membara. 

Saya juga bersedih. Namun kesedihan saya tak ada se-kuku kelingking-pun dari kesedihan kawan saya. Sejak berita dilengsernya Anies, saya menangkap adanya ruang gelap di mata kawan saya. Sesekali ada raut merah yang mengembun dari kelopak matanya. Benar-benar sedih.

Pria 47 tahun yang sejak 20 bulan lalu menjadi Menteri Pendidikan Nasional Indonesia tersebut memang semacam oasis di tengah semak reributan dunia pendidikan Indonesia. Banyak gebrakan positif yang pernah dia lakukan. Satu gebrakan yang benar-benar kami (saya dan teman saya) dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia lainnya ingat adalah dihapusnya Ujian Nasional (UNAS).

Bukan dihapus. Namun, momok menakutkan  terdapat di UNAS lah yang  dihapus. Yakni, UNAS yang sebelumnya menjadi penentu kelulusan siswa sudah ditiadakan. UNAS hanyalah UNAS. Yakni  hanya prasyarat yang dilalui sebelum lulus. Namun, tidak semenentukan sebelumnya.

Anies tahu. Dan, parahnya, Anies lah Menteri Pendidikan yang pertamakali tahu bahwa UNAS yang dihadapi para pelajar di Kota Jakarta (seharusnya) tidak sama dengan UNAS yang digelar di pedalaman Papua. UNAS, bagi Anies bukanlah sistem penentu kelulusan yang objektif.

Anies merubah mindset masyarakat bahwa UNAS adalah momok kelulusan dengan “melumpuhkan” racun UNAS itu sendiri--- UNAS bukan menjadi penentu kelulusan. Menurut kawan saya, itu satu dari kehebatan Anies diantara Menteri-Menteri Pendidikan sebelum dirinya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline