Lihat ke Halaman Asli

Rahasia Hati

Diperbarui: 1 Juli 2015   13:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac

Disebuah taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga nan indah. Aku berada disebuah bangku bersama dengan Tina. Kami tampak bagaikan sepasang muda-mudi yang tengah berpacaran, meskipun keadaanya tidak lah demikian. Nyaris setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya dan bersamanya ku selalu merasa bahagia.

Aku hanya lah seorang sahabat baginya, bahkan mungkin seorang kakak, karena perbedaan usia kami yang terpaut lima tahun, dimana usianya lebih muda dariku. Selama ini aku selalu berusaha menjadi sosok sahabat atau kakak yang baik buatnya, bergembira bersama, serta berusaha ada dikala duka mulai menyelimuti hatinya.

Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya, mencintainya dan ingin sekali mengarungi kehidupan ini bersama dengannya, baik di saat suka maupun duka. Aku akan selalu ada untuknya. Namun, apa lah daya nyali tidak sebesar angan naluri. Entah sampai kapan aku akan memendamnya, disatu sisi batin ku bahagia bisa selalu menjadi orang yang menemani harinya, disisi lain batin merasa takut, takut akan kehilangan dirinya.

Sebelumnya, tak pernah terpikir dibenakku untuk jatuh cinta kepadanya. Namun, perlahan rasa itu mulai ada, aku mulai jatuh cinta dengan wanita yang sudah hampir tiga tahun kuanggap sebagai saudara. Aku pun berusaha menyangkal perasaan ini, bersikap biasa, layaknya seorang sahabat, meskipun terkadang itu sangat menyiksa. Berkali-kali ku mencoba bertanya dalam hati, apakah benar aku mencintainya atau ini hanya dinamika hati karena terlalu sering bersama.

Sudah hampir satu jam lebih aku duduk bersamanya disana, sembari mendengarnya bercerita tentang Hendra, pria yang menjadi pujaan hatinya dan juga merupakan salah seorang temanku. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik, meskipun dibenakku selalu membayangkan, andaikan saja aku yang menjadi pujaan hatinya.

“Hendra itu kenapa sih, Amri?” tanya Tina.

“Kenapa apanya Tin?” aku mencoba bersikap seolah-olah penasaran.

“Dia selalu saja bersikap dingin sama aku. Setiap kali aku sms, bbm atau telpon dia selalu saja bersikap so cool gitu. Dia itu suka atau tidak sih sama aku,” katanya. Aku mencoba diam sejenak.

“Gini ya Tin. Hendra itu orangnya memang tipenya tertutup dan dingin seperti itu, sampai sekarang saja aku juga tidak tahu dia suka atau tidak sama kamu,” ungkapku.

“Tapi aku yakin dia itu suka sama kamu. Buktinya dia sering kan ajak kamu jalan bareng,” ungkapku terus berusaha menenangkan hati Tina yang terlihat sedang gundah gulana.

“Iya juga sih,” jawabnya singkat sembari memperlihatkan raut wajah yang lesu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline