Lihat ke Halaman Asli

Vidi Susanto

Photography

Bersama Orang Baik, Menuju Tempat Baik

Diperbarui: 24 Mei 2023   13:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kampung adat Baduy Luar, Gajeboh/Dok Pribadi

Sore itu banyak kekesalan yang melanda, mulai motor yang sulit diajak ngebut, udara dini hari yang begitu dingin, celana ganti yang tak terbawa hingga jas hujan yang tertinggal di rak depan sepedah motor.

Ini kali pertama saya mengunjungi Kampung Adat Baduy. Persiapan begitu matang dari H-2 minggu sebelum pemberangkatan, saya sudah mempersiapkan apa saja yang akan dibawa dan sedikit membayangkan dialog-dialog yang khas dari masyarakat Baduy.

Bersama Komunitas Langkah perjalanan dimulai. Kali pertama bergabung tak ada kesan malu dalam benak diri, tak seperti sebelum-sebelumnya dengan komunitas yang sama, rasanya untuk ngobrol dengan orang yang baru kenal sulit saya lakukan, lebih banyak berdiam dan mendengarkan dialog mereka. Namun kali ini rasanya kebiasaan tersebut hilang dengan sendirinya.

Kang Poedji Irawan ketua Komunitas Langkah tentunya bukan orang baru, sebelumnya kita pernah melakukakan trip bersama ke wilayat Cianjur tepatnya di Gunung Padang, Stasion Lampegan hingga Bumi Ageung Cikidang, yang menjadi tempat singgah Bupati Cianjur yang ke-10 Raden Adipati Aria Prawiradiredja II, yang menjabat pada priode 1862-1910.

Saya masik ingat pada saat berunjung ke Gunung Padang, dimana kita berdua berada dibarisan jok paling belakang. Banyak dialog yang terjadi salah satunya kejadian yang dialami di kota Subang hingga perkara seke cai/ mata air.

Dari obrolan mengenai seke cai, beberapa hari setelah obrolan itu saya diundang beliau untuk menghadiri launching film yang berjudul "Preserving The Seke", film pertama Indonesia yang diputar di International Film Festival Manhattan (IFFM).

Kembali keperjalaan menuju suku Baduy tepatnya ke kampung Gajeboh. Hujan turun tanpa tanda ketika rombongan baru berjalan 10 menit dari stasion Ciboleger, dari situlah baru sadar bahwa jas hujan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tertinggal dirak depan sepedah motor. Bingung antara takut tertinggal dengan rombongan atau merelakan kamera yang terus digulur hujan.

Sejenak berteduh sembari menghisap roko tak lama hujan pun reda, setelah beberapa menit berjalan hujan turun amat deras dan tempat untuk berteduh pun tak ada. Namun orang baik pun hadir memberikan jas hujan yang beliau punya untuk saya pakai. Nama nya Pak Nana, guru Bahasa Inggris dari salah satu SMP di kota Cimahi yang murah senyum. Semenjak di mobil kita tak banyak bicara walaupun saya duduk disampingnya hanya terhalang satu orang.

Dialog dengan pak Andy mengenai "one line drawing"/Dok Pribadi

Selain dibuat terharu dengan apa yang dilakukan pak Nana, banyak pula ilmu yang saya dapat khususnya dari pak Andy mengenai teknik menggambar "One Line Drawing", yang sebelumnya juga sempat bertemu dikegiatan yang sama di Gununug Padang. Selain ilmu seni rupa, beliau banyak memberikan pemahanan mengenai ular yang sebelumnya belum saya ketahui mengenai jenis ular yang berbisa rendah, menengah hingga tinggi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline