Lihat ke Halaman Asli

Aniza Ambarwati

Pendidik, Penulis, dan mahasiswa magister

Kesempatan Kedua Memijakkan Kaki di Negeri Pemimpi (Pare-Kediri)

Diperbarui: 14 Januari 2019   17:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Travel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Jcomp

Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur merupakan negeri pemimpi. Sebutan ini sebenarnya saya dapat dari salah satu tutor disana. Kenapa demikian? Karena disana banyak berdatangan orang-orang dari seluruh pelosok negeri dengan mimpinya masing-masing. Sebuah desa yang menjadi saksi bisu bergulatnya keinginan dan kegigihan untuk memperjuangkan setiap jengkal impian.

Tepatnya 9 Desember 2018 sampai 9 Januari 2019 adalah kesempatan kedua saya bisa berada disana, setelah beberapa tahun yang lalu. Kenapa saya katakan ini sebagai kesempatan? Karena tidak semua orang punya kesempatan kesana. Kadang seseorang punya waktu tapi tidak punya biaya, dan sebaliknya. Artikel tentang Kampung Inggris, Pare, pernah saya tulis disini sebelumnya. Tulisan kedua ini tentu berbeda dari tulisan pertama karena pertemuan pertama dan kedua pasti meninggalkan kesan berbeda.

Sebenarnya sudah lama saya menginginkan kesempatan kedua tersebut namun karena banyak hal, Desember taun lalu barulah niat saya tersampaikan. Dengan segala niat dan tekad, saya langkahkan kaki ke desa kecil nan indah itu. Niat itu adalah memperjuangkan kembali apa yang sempat terasa begitu putus asa untuk diperjuangkan, mungkin ada sedikit "dorongan dipatahkan" yang pada akhirnya membuat saya merasa ini waktu terbaik.

Beberapa tahun yang lalu, kedatangan saya ke desa itu lebih banyak untuk sekedar menghabiskan liburan kuliah dari pada belajar. Sedangkan kesempatan kedua itu benar-benar saya niatkan untuk belajar. Akhirnya saya memilih Toefl Camp di Elfast, sebuah lembaga ternama yang trade record nya sudah teruji dan biaya yang cukup terjangkau.

Tentang TOEFL CAMP

TOEFL Camp merupakan program Camp yang berorientasi TOEFL, jadi siswa-siswa diarahkan untuk mendapatkan skor Toefl sesuai target dengan masih diselingi pemberian materi tentang trik-trik mengerjakan soal-soal Toefl. Selain itu, siswa-siswa memperoleh kesempatan 13 kali scoring yang dilakukan pada hari Senin, Kamis, Jumat malam. Berbeda dengan Teofl Perfection yang hanya berorientasi scoring dan pembahasan soal semata.

Pada periode bulan 10 Desember 2018, ELFAST membuka dua kelas TOEFL Camp denga jumlah siswa 49. Awalnya jumlah siswa lebih dari itu namun setelah Technical Meeting, banyak siswa merasa salah mengambil program dan akhirnya memilih pindah. Lembaga ini memberikan waktu sampai hari kedua untuk memutuskan pindah program atau tetap bertahan dengan segala konsekuensinya.

Camp Putra dan Putri berbeda, Camp Putri berada di Logico (lembaga kursus 2 mingguan dibawah naungan Elfast) sedangkan putra tetap berada di Elfast. Sempat kecewa, kenapa putri justru ditempatkan di camp yang jaraknya 500 meter dari Elfast sedangkan putra hanya melangkahkan kaki beberapa meter. Mungkin kalau putra ditempatkan di Camp yang jauh, mereka akan lebih sering terlambat karena faktanya semakin hari, jumlah siswa putra yang hadir di kelas semakin menipis.

Dalam sehari kami harus menghadiri 5 kelas, kelas pagi pukul 05.00-06.00 yaitu kelas vocabulary, kami diasupi vocabulary setiap hari. Kelas kedua sampai keempat (listening, structure, reading, setiap kelas berdurasi 1.5 jam) sekitar pukul 07.00-11.30 (Toefl Camp kelas A), saya kurang paham dengan jawal kelas B. Kemudian dilanjutkan kelas structure lagi pada ukul 16.00-17.30. Pada malam hari, khusus Senin, Rabu , dan Jumat malam dihabiskan dengan scoring. Sedangkan pada Selasa dan Kamis bisa kami gunakan untuk memgikuti study club gratis di Elfast. Menarik, bukan? Dan pastinya melelahkan apalagi putri yang harus bolak baik Logico-Elfast.

Bagaimana dengan pengajar disana? So far, saya merasa pengajar disana berkompeten, berpengalaman mengajar bertahun-tahun dan inovatif. Baiklah, saya hanya mengenal 6 pengajar yang mengisi kelas A jadi saya hanya akan menceritakan mereka saja. Pertama, Ms. Yuni, beliau adalah pengajar yang mengisi kelas vocabulary pada pagi hari sekaligus ibu asuh di camp. Khusus Camp Logico (camp putri) memang tidak selalu diisi dengan vocabulary, kadang-kadang diselingi listening dan speaking (plus-minusnya tergantung penerimaan masing-masing). Kedua, Ms. Iis, sebut saja ia penjaga Camp dan Skoring karena itulah tugasnya tapi dia sebenarnya pengajar kelas Writing IELTS. Ms. Iis ini pembawaannya keras, tegas tapi sebenarnya hatinya baik dan pintar tentu saja.

Ketiga, Mr. Arie, tutor listening yang kece, masih sangat muda dan bisa jadi teman. Di dalam kelas hubungan kami tetap guru-siswa, diluar kelas kami bisa duduk ataupun nongkrong bersama sebagai teman. Bisa dibilang dia adalah spesialis listening karena dua tahun mengajar disana selalu ditempatkan pada materi listening. Anak muda lulusan universitas negeri di Gorontalo ini , sebelumnya juga siswa yang belajar di Pare kemudian direkrut menjadi pengajar. Dia selalu menghadirkan inovasi dalam mengajarkan listening, misalnya tape script (menulis teks dari podcast yang didengar), membenarkan lirik lagu yang memiliki pronounce hampir mirip, mengerjakan soal-soal listening kemudian dibahas dalam kelompok. Bahkan kami pernah bertanding antarkelompok dengan memberikan jajanan pada kelompok pemenang, alhasil mereka membawa banyak sekali makanan. Pada pertemuan terkahir, dia membuat perjumpaan terakhir semakin berkesan dengan menuliskan pesan dan kesan tentang teman-teman. Secarik kertas ditulis nama masing-masing siswa kemudian diedarkan secara begilir, setiap siswa harus menuliskan apapun tentang seseorang dengan nama yang tertulis.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline