Lihat ke Halaman Asli

Tuti Kusmiati

Mahasiswa

Sejauh Mana Perkembangan Bioteknologi Lingkungan di Indonesia?

Diperbarui: 27 Desember 2022   04:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita bahwa hampir seluruh aktivitas manusia selalu menghasilkan sampah. Setiap aktivitas manusia baik itu di rumah maupun industri selalu menghasilkan limbah sebagai dampak negatifnya. 

Data kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2021 mencatat volume sampah di Indonesia yang terdiri dari 154 kabupaten/kota bisa mencapai hingga 18,2 juta ton/tahun. Akan tetapi pada kenyataannya sampah yang terkelola dengan baik hanya sekitar 72,95% dari sampah yang dihasilkan.  Dengan keadaan zaman pada saat ini, dimana teknologi yang berkembang begitu pesat dan jumlah perindustrian yang meningkat, ternyata meningkatkan juga jumlah limbah yang dihasilkan. Jenis dan volume limbah yang semakin besar mengakibatkan permasalahan semakin kompleks.

Memperburuknya masalah lingkungan tentunya tidak boleh dibiarkan, perlu sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah yang kompleks itu. Salah satu solusi yang bisa digunakan dalam mengatasi atau mengurangi permasalahan tersebut adalah dengan penerapan ilmu bioteknologi. Beberapa peranan bioteknologi dalam meningkatkan kualitas lingkungan yaitu dengan bioleaching, remediasi, pembuatan pupuk hayati ramah lingkungan, serta pembuatan bioplastik untuk mengurangi sampah plastik.

Penelitian-Penelitian tentang Bioteknologi Lingkungan

Peranan positif bioteknologi dalam mengatasi atau mengurangi permasalahan lingkungan tersebut telah dijelaskan dan dibuktikan pada beberapa penelitian. Fahmideh et al (2014) menyebutkan bahwa bioteknologi memiliki banyak manfaat bagi lingkungan diantara sebagai bioremediasi, bioleaching yaitu pelepasan logam dari mineral atau sedimen, memproduksi pupuk hayati yang mudah didegradasi oleh lingkungan serta memproduksi bioplastik yang berasal dari gula, lemak, protein dan serat tanaman, untuk mengurangi limbah plastik. 

Sementara itu Andreas Santosa et al (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendekatan bioteknologi dengan memanfaatkan penggunaan bakteri Desulfotomaculum orientis ICBB1204 dapat menurunkan kandungan Cr pada air limbah industri hingga 92,7% selama 30 hari. Dalam penelitian lain juga disebutkan bahwa kebermanfaatan bioteknologi bagi lingkungan yaitu dengan penggunaan bioplastik yang bisa mengurangi permasalahan lingkungan yang mana pada saat ini sampah plastik menjadi permasalahan di seluruh dunia. Bioplastik sendiri merupakan plastik yang bisa didekomposisi oleh mikroorganisme dan akan menghasilkan senyawa asalnya (air dan karbon dioksida). 

Selain itu Andreas Santosa et al dalam penelitiannya menyebutkan juga mengenai bioleaching yang merupakan aplikasi dari bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan mikroorganisme dalam prosesnya. Di Indonesia sendiri bioleaching diaplikasikan dalam pengekstrasian emas, pyrate, tembaga dan besi. Penicillium chrysogenum dapat dimanfaatkan untuk mengekstraksi logam nikel dan menghasilkan 12,87% sedangkan Aspergillus niger menghasilkan 11,83% (Andreas Santosa et al., 2008). Penelitian lain juga melaporkan bahwa bakteri mixotrop dapat mengekstraksi nikel sebesar 34,3% menggunakan substrat organik air lindi dengan penambahan belerang 20% setelah proses berlangsung selama 28 hari (Mubarok et al., 2015).

Peranan Pemerintah dalam Perkembangan Ilmu Bioteknologi

Dengan manfaat ilmu bioteknologi dalam mengatasi permasalahan lingkungan, tentunya bioteknologi ini perlu dikembangkan lebih lanjut. Dan keberkembangan bioteknologi ini tentunya tak terlepas dari partisipasi pemerintah yang dengan konsisten memberikan dana hibah untuk melakukan penelitian dalam bidang bioteknologi. Komen dan Parsley pada tahun 1995 mengatakan bahwa pemerintah telah menyediakan dana sebesar 500 Milyar dalam rangka mendukung penelitian di bidang bioteknologi ini. 

Di samping pemberian dana, partisipasi pemerintah dalam pengembangan bioteknologi ini juga ditunjukkan dengan diberlakukannya kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan bioteknologi. Dan oleh karena itu, Badan Lingkungan Hidup (BLH) yang mewakili pemerintah, melakukan pencegahan sedini mungkin terjadinya pencemaran lingkungan. Dalam hal ini pemerintah harus mampu menekankan pada penggunaan teknologi yang bersih lingkungan karena perhatian terhadap lingkungan tidak hanya kepada masyarakat semata tetapi juga untuk industri-industri yang ada.

Artikel ini ditulis oleh:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline