Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat dan Praktisi

Apa Saya Orang yang Membebani, Memaksakan, dan Membanggakan Diri?

Diperbarui: 19 April 2022   22:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Kompas.com


Di bulan yang penuh ampunan, Ramadhan fase 10 hari kedua, terkait bebasnya mudik Lebaran, maka bukan hanya umat Islam yang sudah merencanakan mudik ke kampung halaman, tetapi juga dilakukan oleh hampir seluruh umat atau rakyat Indonesia.

Meski pun tetap wajib dengan protokol Covid-19 ketat, mudik kali ini boleh disebut sebagai pelampiasan dendam, akibat dua kali lebaran, banyak rakyat di Indonesia yang tak dapat mudik akibat pandemi corona.

Untuk itu, sebab vaksin booster menjadi salah satu syarat mutlak untuk para pemudik, maka kini hampir seluruh masyarakat yang berniat mudik, sudah melalukan vaksin booster, agar tak menyusahkan diri sendiri, keluarga, dan sanak sauadara di kampung halaman.

Yang penting bertemu

Dalam beberapa kesempatan, saya coba bertanya kepada beberapa orang baik yang saya kenal atau tidak saya kenal. Di kantor, di pasar, di swalayan, di lapangan bola, di jalan, dalam percakapan via telepon atau whatsApp (wa), semua orang yang saya tanya, apakah tahun ini mudik? Ternyata, hampir semuanya menjawab akan mencoba mudik, walau pun ekonomi sedang sulit.

"Karena sudah dua kali lebaran tidak mudik, maka tahun ini saya coba paksakan mudik. Saya sangat kangen sama Ibu saya, kakak-kakak, adik-adik saya dan keponakan-keponakan saya. Yang penting saya bisa ketemu dengan mereka. Tidak harus berpikir membawa baju baru, kue lebaran dan lainnya. Bertemu saja pasti sudah menyenangkan. Tidak harus memaksakan diri bawa ini, bawa itu buat oleh-oleh. Yang penting, saya punya ongkos untuk mudik dan balik." Ujar seseorang.

Seseorang itu adalah orang yang saya tanya di Toko Swalayan ketika sedang antre membayar belanjaan di kasir.

Ketika selesai dari Toko Swalayan, saya pun bertanya ke pengendara lain di tempat parkir. Apakah dia punya kampung. Dan, apakah ada rencana mudik.

"Saya punya kampung Pak. Rencana tahun ini mudik. Yang penting bertemu orang tua dan keluarga. Mumpung mudik dibolehkan." ujar pengendara itu.

Saya pun bertanya, apakah saat mudik nanti akan bawa oleh-oleh, baju baru dan kue-kue untuk keluarga di kampung?

"Untuk apa repot-repot beli di sini, terus.di bawa ke kampung. Di kampung juga bisa beli barang yang sama. Lagian, ini tahun keprihatinan, jadi buat apa memaksakan diri. Keluarga di kampung juga sudah bilang, yang penting saya pulang, tidak usah repot mikirin ini itu. Yang penting pulang bisa bertemu keluarga, orang tua."  sambung pengendara itu bijak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline