Lihat ke Halaman Asli

Supartono JW

Pengamat dan Praktisi

Bila Disegani dan Dihormati Tak Lagi Menjadi Pilihan

Diperbarui: 24 Januari 2021   23:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Kompas.com


Di zaman ini, kira-kira di rumah, manakah yang kini banyak terjadi? Anak-anak hormat pada orang tua atau anak-anak segan pada orang tua atau anak-anak takut pada orang tua atau anak-anak mengabaikan orang tua?Kira-kira di sekolah, manakah yang kini banyak terjadi? Anak-anak hormat pada guru atau anak-anak segan pada guru atau anak-anak takut pada guru atau anak-anak mengabaikan guru?

Kira-kira di sekolah, manakah yang kini banyak terjadi? Anak-anak hormat pada guru atau anak-anak segan pada guru atau anak-anak takut pada guru atau anak-anak mengabaikan guru?

Kira-kira di lingkungan masyarakat, manakah yang kini banyak terjadi? Anak-anak hormat pada orang lain atau anak-anak segan pada orang lain atau anak-anak takut pada orang lain atau anak-anak mengabaikan orang lain?

Lalu, di tengah pandemi yang terus berkibar, kira-kira di negeri ini, manakah yang kini banyak terjadi? Rakyat hormat pada petugas negara atau rakyat segan pada petugas negara atau rakyat takut pada petugas negara atau rakyat  mengabaikan petugas negara?

Manakah yang kini banyak terjadi? Rakyat hormat pada wakil rakyat dan pemimpin atau rakyat segan pada wakil rakyat dan pemimpin atau rakyat takut pada wakil rakyat dan pemimpin atau rakyat  mengabaikan wakil rakyat dan pemimpin?

Sejatinya, para orang tua, guru, masyarakat umum, petugas negara, wakil rakyat, pemimpin, semuanya memiliki tugas yang sama, yaitu menjadi pemimpin diri sendiri dan orang lain untuk menggerakkan orang-orang yang dipimpinnnya agar bersedia melakukan aktifitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sayang, menggerakkan orang untuk mencapai sebuah tujuan tidak mudah. Karenanya ada pilihan yang digunakan agar orang-orang mau tergerak dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu dengan menggunakan peraturan, pemberian imbalan, harapan, bahkan sampai ancaman, tipu muslihat yang terbungkus kisah kasih sayang dan pencitraan.

Sayang, demi dihormati, disegani, untuk menggerakkan orang-orang justru menggunakan cara-cara pendekatan formal, menggunakan peraturan, menggunakan transkasional, dan berbagai hal lainnya yang bikin menakutkan.

Siapa yang kini dapat diandalakan oleh para orang tua, guru, masyarakat, bila para wakil rakyat, petugas negara, para pemimpin berkolaborasi tak meneladani rakyat dengan seolah tak peduli dan membiarkan rakyat mau segan dan hormat, itu tak penting lagi.

Pasalnya, sepertinya apa yang kini ada dipikiran dan programnya hanyalah bagaimana tetap kuat dalam menggenggam kekuasaan, menjalankan kepentingan, siapa pun yang coba menghalangi akan disingkirkan, dibungkam, ditangkap. Sehingga, harus ada dan tercipta perasaan takut di masyarakat.

Apa yang kini dirasakan rakyat, para pemimpin kita nampak mengedepankan pendekatan peraturan dan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Jauh dari pendekatan kemanusiaan atau hati nurani.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline