Lihat ke Halaman Asli

TJIPTADINATA EFFENDI

TERVERIFIKASI

Kompasianer of the Year 2014

Inilah Contoh Pantun Sadis

Diperbarui: 6 September 2021   19:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi permaian KIM /merdeka.com

Syukurlah Kini Sudah Tidak Digunakan Lagi 

Ada banyak pantun yang bernilai seni dan memiliki pesan moral mendalam, yang saking lamanya, tidak diketahui lagi siapa penciptanya dan sudah dianggap sebagai pusaka bagi generasi muda Indonesia. Salah satu contoh adalah :

Berburu kepadang datar

dapat rusa belang kaki

Berguru kepalang ajar

bagaikan bunga kembang tak jadi .

Yang menyirat pesan moral, kalau mempelajari sesuatu hendaknya hingga tuntas dan jangan kepalang tanggung

Pantun lain, yang juga sangat popular di era tahun 50 an adalah :

Kalau ada sumur di ladang 

boleh saya menumpang mandi

kalau ada umur panjang'

boleh kita berjumpa lagi 

Ini hanyalah sekedar contoh, bahwa betapa banyaknya pantun yang sarat dengan pesan moral dan sekaligus mempererat hubungan persahabatan. Setiap orang sesungguhnya boleh saja dengan bebas menuliskan pantun,sesuai dengan selera masing masing.  

Pantun paling sadis yang pernah populer ditahun 50 an dikampung halaman saya,menurut saya merupakan pantun sadis dan tak layak disebutkan sebagai pantun  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b).

Dulu di Sumatera Barat permainan yang sarat dengan pantun adalah permainan KIM -Kesenian Irama Minang . Permainan yang diminati tidak hanya dari warga Sumatera Barat,tetapi bahkan datang dari berbagai daerah lainnya. Ada banyak hadiah disediakan,mulai dari Radio Transistor,kain sarung  hingga sepeda motor. 

Kami juga pernah ikut main sewaktu diadakan di Danau Maninjau. Tetapi kemudian permainan ini menimbulkan Pro dan Kontra,karena ada yang menilainya, mengandung unsur judi.

Karena saya orang Padang,tapi bukan orang Minang,maka saya tidak berani gegabah menuliskan suatu hal yang berada diluar kapasitas saya.

Pantun Sadis Tersebut Berbunyi

Setinggi tinggi pohon kelapa

Tidak setinggi pohon kelawi

Mati bapak tidak mengapa

Mati ibu binasa diri

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline