Lihat ke Halaman Asli

TJIPTADINATA EFFENDI

TERVERIFIKASI

Kompasianer of the Year 2014

Salah Langkah, Dapat Mengubah Kesuksesan Jadi Petaka

Diperbarui: 19 Januari 2017   00:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Shutterstock.com

Salah Menempatkan Kesuksesan, Berpotensi  Jadi Petaka 

Ada begitu banyak contoh contoh hidup,yang dapat dijadikan pelajaran  bagi setiap orang. Antara lain,mengapa ketika sama sama hidup melarat orang bisa hidup rukun dan damai,tetapi begitu salah satu hidupnya membaik, maka hubungan  persahabatan menjadi retak?Bahkan tidak jarang ,hal inij uga terjadi dalam satu keluarga.

Dalam kondisi hidup melarat, biasanya keluarga sangat akur. Merasa senasib ,maka samasama berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.Saling membantu antara anak,istri dan suami. Kompak menghadapi apapun dalam hidup .Kesulitan yang dialami oleh salah satu anggota keluarga,adalah menjadi bagian dari kesulitan kita juga.Tidak ada istilah ;'Itu urusan saya,itu urusan kamu. "Betapapun sibuknya, seluruh anggota keluarga menyempatkan diri,untuk dapat menikmati makan malam bersama,walaupun dengan hidangan ala kadarnya, Kebersamaan ini,sungguh merupakan moment moment terpenting dalam kehidupan berkeluarga. Karena dalam kebersamaan, terciptalah rasa saling mendukung dan menguatkan,

Tetapi anehnya,ketika hidup mulai berkecukupan, maka entah siapa yangmemulai,di dalam keluarga, istilah :"milik kita" atau'"masalah kita" semakin meluntur. Yang mengedepan,bahkan mendominasi dalam pembicaraan,adalah  kata :" saya dan kamu"atau ;'kami' Kata :"kita "seakan sudah raib di telan keadaan.

Awal dari Petaka Dalam Rumah Tangga

Hal yang luput dari perhatian dan tampak sepele ini,sesungguhnya adalah awal dari terciptanya petaka dalam rumah tangga. Anak sudah menjadi dewasa dan sudah berkerja,merasa boleh berbuat apapun sesuai yang diinginkannya. Tidak lagi ingin makan bersama keluarga,karena merasa diri sudah mampu berdiri sendiri. 

Sementara ,istriyang juga sudah memiliki penghasilan sendiri,merasa bahwa tanpa harusmenunggu mendapatkan uang dari suami,ia mampu membeli barang apapunyang disukainya,tanpa merasa perlu berunding terlebih dulu,seperti ketika mereka sama sama hidup melarat. Bahkan merasa tidak berkewajiban untuk menemani suami makan malam bersama di rumah. Istri cukup mengirimkan sms kepada suami :" Pa,mama lagi sibuk.makan saja dulu ya" .Atau suami yang menelpon,:" Ma, papa lagi meeting dan makan diluar,nggak usah ditunggu makan malam ya" Begitu juga halnya dengan putra putri yang kini,sudah mampu mandiri dalam hal keuangan,merasa sudah bukan jamannya lagi,harus pulang makan malam dan duduk bersama keluarga.

Padahal justru ,saat saat kebersamaan tersebut,merupakan momentum yang paling berharga dan tak tergantikan. Dalam kebersamaan inilah seluruh anggota keluarga, saling mendukung dan saling menguatkan, serta mengawal hubungan kekeluargaan.Namun,kesuksesan yang tidak terkontrol,sudah merenggut semuanya dari keluarga.Akibatnya, sukses dibidang materi, yang tidak diwaspadai dan disikapi secara arif,telah menciptakan jurang atau tembok pemisah antara suami, istri,dan anak-anak.

Seakan dalam rumah tangga sudah tercipta tiga kelompok manusia, yakini suami, istri, dan anak yang masing masing hidup dalam dunianya sendiri sendiri. Kalau biasanya makan malam selalu bersama, kini suami makan diluar sama teman kantor atau istri makan di tempat arisan dan anak juga tidak pulang makan malam ,karena lagi bersama teman teman. Keluarga sudah berubah fungsi menjadi tak ubahnya bagaikan tempat kost .

Uang dan harta, ternyata tidak hanya mampu menghancurkan sebuah persahabatan,tetapi juga sebuah keluarga,yang tadinya hidup rukun dan damai. 

Money is the Root of Evil, Tidak Sepenuhnya Benar

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline