Lihat ke Halaman Asli

Tito Prayitno

Notaris dan PPAT

Bakat, Konon, Bisa Dipaksakan

Diperbarui: 14 Februari 2020   16:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Seorang tukang nasi goreng di komplek perumahan menengah, berusia lima puluhan bercerita tentang masa mudanya.  Konon dulunya dia seorang pemuda cerdas lagi energik.  Seperti halnya pemuda cerdas lainnya, saat mengajukan diri untuk mengabdi kepada negara menjadi agen intelejen diterimalah sang pemuda tadi.  Singkat cerita jadilah dia agen intelejen dan mendapatkan tugas mengawasi gerak-gerik seorang aktivis yang dikategorikan sebagai musuh negara.  Mengenai bagaimana cara kerjanya, diserahkan sepenuhnya kepada si pemuda.

Tak jelas siapa yang mengajari, dan entah mendapatkan ide dari mana, sang pemuda memilih menyamar sebagai tukang nasi goreng di sekitar pintu gerbang perumahan.  Untuk menyempurnakan penyamarannya ia bahkan mampu membuat nasi goreng sendiri dan berjualan seperti layaknya penjual nasi goreng sejati.  Hari berbilang minggu, minggu berbilang bulan, bulan berbilang tahun ternyata nasi goreng si pemuda diminati sebagian besar warga perumahan.  Sang pemuda merasa nyaman, karena merasa dihargai sebagai penjual nasi goreng dan ditambah lagi warga perumahan dan sekitarnya terdiri dari orang-orang yang ramah tamah dan baik pula budi pekertinya. 

Singkat cerita pada tahun kedua penyamarannya, si pemuda memilih mengundurkan diri dari agen intelejen dan melanjutkan karir dan hidupnya sebagai tukang nasi goreng, yang menurutnya mungkin lebih membahagiakan dan tanpa tekanan.  Sejalan dengan mundurnya si pemuda dari dinas intelejen, sang aktivis pun pindah dari komplek perumahan tersebut, sehingga si pemuda merasa lega bukan buatan, karena bagaimanapun jika sang aktivis masih lalu lalang di depan hidungnya setidaknya pasti akan ada ganjalan yang meresahkan hatinya.  Apalagi jika kemudian penguasa menugaskan agen intelejen baru, yang bukan tak mungkin pasti akan mampir sekali dua ke warung nasi gorengnya.

Di belahan bumi pertiwi lain, tepatnya di pulau Belitung, sekitar 37 tahun lalu, saat system pendidikan di SMA masih menggunakan pembagian IPA dan IPS, tersebutlah seorang murid yang gemar akan penelitian ilmiah yang berhubungan dengan alam dan ekosistem, mungkin bidang biologi tepatnya.  Namun sayang, kecintaan anak tersebut terhadap ilmu biologi, tidak diiringi dengan kemampuannya di bidang fisika, kimia dan matematika.

Alhasil nilai ketiga pelajaran tersebut berada di bawah ambang batas syarat untuk masuk ke jurusan IPA.   Akibatnya, kendatipun si anak menangis sampai kering air matanya, tak akan bisa masuk ke jurusan idamannya dan dengan terpaksa harus belajar di jurusan IPS.  Jurusan yang menurutnya tak lebih dari belajar bagaimana caranya membuat laporan keuangan, menghapal pelajaran ekonomi, sejarah dan geografi.  Tak satupun yang menjadi minat dirinya.

Hambatannya untuk belajar di jurusan IPA, tak membuatnya patah arang, di samping sekolah seperti murid pada umumnya, si anak bermental baja tersebut tetap pada pendirian awalnya, sibuk berkutat di perpusatakaan mempelajari referensi buku biologi, melakukan penelitian di lapangan sendirian serta mengikuti lomba karya ilmiah remaja setiap ada kesempatan.  Sebagian besar karya ilmiah yang dikerjakannya berkaitan dengan bidang pertanian.  Jika ditanya, jawabnya sederhana; "saya berasal dari desa, yang sebagian besar penduduknya kaum petani, saya ingin mengembangkan potensi pertanian di desa saya yang masih konvensional..."

Perjuangan si anak tak sia-sia, setiap tahunnya sejak kelas 1 hingga kelas 3, ia senantiasa menjadi pemenang utama lomba karya ilmiah remaja.  Bahkan pada saat kelas 3 ia berhasil meraih pemenang utama untuk tingkat propinsi.  Prestasinya tersebut membuat kagum para temannya, sekaligus membuat para guru jurusan IPA tercengang-cengang, tak tahu mesti berbuat apa, karena sepanjang 3 tahun tersebut, tak satupun anak murid di jurusannya yang tergerak mengikuti lomba karya ilmiah, konon lagi menjadi pemenanngnya.  Waktu 3 tahun tak akan mungkin bisa membuat lupa para guru, dan bahkan kepala sekolah sekalipun bahwa si pemenang karya ilmiah ini pernah ditolak untuk masuk ke jurusan yang diminatinya.

Kini si anak berbakat tersebut, sudah memasuki usia 53 tahun, pernah menjadi kepala sekolah dan giat membina petani di kampung halamannya. Beberapa bukunya tentang cara bercocok tanam tersebar dan dijual di beberapa toko buku ternama negeri ini.

Bakat

Berangkat dari ilustrasi di atas, pada dasarnya ada dua perbedaan yang menentukan karir kedua orang tersebut.  Untuk yang pertama, seorang yang cerdas, diberikan kesempatan untuk menjadi tukang nasi goreng, yang sebelumnya tidak diminatinya kemudian sukses menjalankan pekerjaan yang diberikan kepadanya.  Sedangkan untuk kasus yang kedua, seorang yang cerdas, mempunyai minat terhadap pekerjaan ilmiah, namun tak diberi kesempatan, akhirnya dia tetap kukuh pada pendiriannya, juga menuai kesuksesan.

Sejalan dengan hal tersebut, seorang kepala sekolah di SMA mengatakan, bahwa bakat bisa dipaksakan, menyikapi keresahan murid yang masuk ke jurusan yang tidak sesuai dengan diinginkan.  Pada kesempatan lain, pada zaman dahulu kala tentunya; Albert Einstein pernah mengatakan bahwa, untuk mencapai kesuksesan diperlukan 99 persen kerja keras dan 1 persen bakat.  Artinya, bakat nyaris tak bermanfaat dan bukan factor penentu kesuksesan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline