Lihat ke Halaman Asli

JPIC Kapusin Medan

Capuchin Brother

Menyingkap Rahmat Tuhan yang Tersimpan di Alam Sumatera Utara

Diperbarui: 4 Februari 2021   00:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar diunduh dari http://www.bpkp.go.id/sumut/konten/236/

Pengantar

Horas! Mejuah-juah! Njuah-juah! Ya'ahowu!

Kalau pernah ke Sumatera Utara (Sumut), Sobat-sobat yang baik pasti pernah dengar sapaan di atas. Demikian sapaan yang cukup popular dan familiar dari Sumatera Utara.  Di provinsi ini pula, kita dapat menyingkap begitu banyak kebaikan Tuhan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Bukan hanya kekayaan suku, agama, kesenian, dan destinasi alam, tapi tempat ziarah rohani pun cukup banyak di Sumut. Dalam tulisan singkat ini, kami akan mencoba menyingkapkannya.

Kami akan mengajak Sobat-sobat untuk mengenal rahmat Tuhan yang tersimpan di alam Sumut yang meliputi keanekaragaman suku, agama, bahasa, pertanian dan perkebunan, kesenian, tempat wisata alam, dan tempat ziarah rohani yang tak kalah popular.

Suku bangsa yang ada di Sumut cukup variatif. Ada suku Batak, Nias, dan Melayu. Daerah pesisir timur, dominan didiami oleh orang Melayu. Daerah pantai barat (Barus-Natal) didiami oleh orang Minangkabau. Daerah tengah, sekitaran Danau Toba, dihuni oleh suku Batak. Sementara suku Nias berada di Kepulauan Nias, sebelah Barat. Tapi, masih ada suku Jawa dan Tionghoa yang turut mendiami provinsi ini. Masih ada juga etnis Banjar, India, dan Arab di Sumut. Bisa jadi, masih ada suku lain yang tinggal di Sumut.

Agama di Sumut terdiri atas Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, dan Aliran Kepercayaan Parmalim (sebutan bagi penganut Ugamo Malim, agama leluhur yang diwariskan Sisingamangaraja kepada Raja Mulia). Pusat agama ini ada di daerah Huta Tinggi, Desa Parnomuan Nauli, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Ini menjadi salah satu kekhasan dari Sumatera Utara yang pantas digali.

Bahasa yang digunakan pada umumnya adalah Indonesia. Walau demikian, sebagai efek logis dari beragamnya suku di Sumut, beragam pulalah bahasa lokal yang bisa didapat di sini, seperti bahasa Melayu (Deli, Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan, dan Tanjung Balai), Hokkian (Tionghoa), Batak (Toba, Simalungun, Karo, Angkola, Pakpak, dan Dairi), dan Nias (di Kepulauan Nias). Sementara orang yang tinggal di Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng) menggunakan bahasa pesisir.

Pertanian dan perkebunan menjadi andalan masyarakatnya. Pertanian padi cukup luas di Sumut, secara khusus di daerah tengah karena dekat dengan perairan danau. Selain perkebunan sawit, terdapat kebun karet, cokelat, teh, kopi, cengkeh, kelapa, kayu manis, dan tembakau.

Kesenian daerah juga variatif dan kaya. Setiap suku dan subsuku pasti punya kesenian tersendiri. Untuk seni musik yang sudah dikenal adalah musik Batak Toba, Simalungun, dan Karo. Subsuku Angkola, Pakpak, dan Dairi juga punya kekhasannya. Ada gondang dan instrumen tradisional lainnya. Sementara itu, Melayu terkenal dengan akordeon, gendang Melayu, dan biola. Nias juga punya musik yang khas.

Seni arsitektur juga cukup variatif. Perpaduan seni pahat dan ukiran menjadi kekhasan etnik Batak (dengan warna merah, putih, dan hitam). Suku yang lain juga punya kekhasan yang hamoir sama, hanya saja rumah Melayu lebih dominan warna hijau.

Tarian tradisional tak kalah terkenal dibanding musik dan arsitektur. Di suku Batak, dikenal tortor dengan variasi yang cukup banyak. Ada pula tari Serampang Duabelas dari Melayu, Gundala-gundala dari Tanah Karo, Maena dari Nias, Sikambang dari Barus, dan lain-lain.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline