Lihat ke Halaman Asli

Thurneysen Simanjuntak

Nomine Kompasiana Awards 2022 (Kategori Best Teacher), Pendidik, Pegiat Literasi, serta Peraih 70++ Penghargaan Menulis.

Jakarta Dulu-Sekarang di Mataku

Diperbarui: 11 Desember 2017   10:58

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

#BangunJakarta

Dari dulu hingga sekarang, Jakarta telah menjadi sorotan dan fokus dari seluruh masyarakat Indonesia. Hal yang wajar, sebab Jakarta adalah pusat pemerintahan negara kita. Bukan itu saja, Jakarta juga merupakan pusat kegiatan perekonomian, pusat perdagangan, pusat jasa perbankan dan keuangan.

Oleh karena itu, secara otomastis Jakarta pun cenderung tumbuh dan berkembang lebih cepat dibandingkan daerah lainnya di Indonesia.Inilah salah satu alasan dan daya tarik masyarakat dari daerah meninggalkan kampung halamannya, serta berlomba-lomba mengadu nasib di ibukota negara kita, Jakarta.

Disamping itu, tentu ada daya dorong daerah juga berkontribusi dalam hal itu. Misalnya terbatasnya lapangan kerja bagi masyarakat daerah. Beralih fungsinya lahan-lahan pertanian menjadi pemukiman penduduk.

Dengan demikian, dari dari tahun ke tahun jumlah penduduk Jakarta pun semakin meningkat dan semakin padat. Karena itu, secara perlahan berkembang pula permasalahan turunan dari kepadatan penduduk tersebut, seperti pengangguran, banjir, kriminalitas, kemacetan, dan lain sebagainya.

Ceritaku tentang Jakarta

Saya adalah salah seorang dari daerah yang merantau dan ikut meramaikan pembagian ‘kue’ di ibukota. November 2001 adalah awal kehadiran saya di Jakarta. Dalam benak saya sebelumnya, bahwa Jakarta itu adalah kota yang serba wah. Jakarta itu sempurna. Hal yang wajar, karena saya selama itu hanya mengenal Jakarta dari media televisi, yang notabene, bahwa Jakarta itu identik dengan bangunan-bangunan pencakar langit, gedung-gedung mewah. Keyakinan saya bahwa mencari pekerjaan di Jakarta itu lebih mudah dan pasti gajinya lebih tinggi dibanding dengan daerah.

Kenyataannya tidak demikian. Ketika saya mulai menetap di Jakarta, tepatnya di daerah Kalimalang, saya mulai melihat kehidupan sesungguhnya, khususnya daerah pinggiran Jakarta. Waktu itu, saya menyaksikan kehidupan warga yang mandi, nyuci dan buang air besar di kali. Saya berpikir, dikampungku aja tidak sebegininya.

Bukan itu saja, awal tahun 2002 atau ketika saya menjalani hidup di kota yang keras ini, saya secara langsung mengalami dua hal yang menyakitkan. Saya harus berhadapan dengan banjir bandang yang luar biasa. Kala itu saya harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki, karena jalanan tidak bisa dilalui oleh angkutan umum. Kemudian, saya juga pernah kecopetan handphone di sebuah angkutan. Kesalnya luar biasa, baru beli hp langsung dicopet pula.

Beda lagi dengan pengalaman ini, saya harus berlari cepat  mengejar bis kota, kesana kemari mencari pekerjaan dengan menggunakan bis yang seharusnya sudah tidak layak pakai, bis penyumbang asap penyebab polusi udara, belum lagi penumpangnya padatnya luar biasa. Inilah pengalaman bertransportasi yang saya rasakan di awal tiba di Jakarta.

Ketika di bis, dalam sebuah perjalanan, saya seperti tersindir dengan lagu yang dinyanyikan oleh pengamen, “Sapa suruh datang Jakarta”, liriknya demikian ….

Ado kasian yeng mama
 Jauh-jauh merantau
 mancari hidup mama
 nasib tidak beruntung

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline