Lihat ke Halaman Asli

Pewaris Tahta yang Bersembunyi [Novel Nusa Antara]

Diperbarui: 22 April 2020   09:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Ribuan kisah.

Rakai Pikatan memandang ribuan prajurit yang berbaris dan berlatih perang di lapangan Prambanan. Tangannnya menggenggam secarik kain. Benda itu berwarna merah, terbuat dari beludru. Kabar yang diterimanya dari Mpu Galuh pagi itu sama sekali tidak membuatnya merasa tenang.

Pergi tanpa memberitahuku. Bagus sekali rencana kalian, Mpu Galuh, Pramodawardhani.

Kegelisahan yang melanda membuatnya mondar -- mandir di teras bilik lapangan Prambanan. Matahari hampir meninggi, menunjukkan waktu bergerak menuju siang hari. Ia membuka genggaman kain di tangannya. Sebuah tulisan hadir di dalamnya dalam Bahasa Sansekerta, sebuah pesan dari tuan putri sebelum meninggalkan istana Prambanan.

Aku akan aman -- aman saja. Jangan cari diriku. Tujukan perhatianmu kepada bangsa ini. Lindungi diri dan bertahanlah. Salam, Pramodawardhani.

Tangannya yang lain mengepal. Di dalam pikirannya setidaknya ia sudah merencanakan hidup mati bersama. Tidak terpisah seperti ini.

Seseorang bertubuh kurus dan berkulit hitam menghampirinya dari belakang.

"Selamat pagi menjelang siang, kawan."

Rakai Pikatan berbalik arah, "Selamat pagi juga, Raka Saputro."

Raka Saputro membuka percakapan, "Kau terlihat gelisah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Mungkin aku dapat membantu."

Rakai Pikatan tersenyum dan menggeleng, "Bukan apa -- apa."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline