Lihat ke Halaman Asli

Theodorus Tjatradiningrat

Pendeta dan Gembala Jemaat di GPdI House Of Blessing Jakarta

Hilangnya Rasa Takut (Mazmur 27:1-3)

Diperbarui: 4 Oktober 2022   22:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi anak kecil berjalan di tali di antara gedung-gedung tinggi. Sumber: Pixabay / Alexas_Fotos

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itupun aku tetap percaya" (Mazmur 27:1-3).

Apakah Kompasianer pernah takut? Sama dong kalo gitu, saya juga pernah! Rasa takut ketika menghadapi banyak musuh atau dalam konteks kita, khususnya Kompasianer yang terkasih, yaitu masalah hidup yang sedang dihadapi hari-hari ini merupakan hal yang wajar. 

Tetapi, rasa takut tidak boleh menguasai apalagi mengalahkan hati dan pikiran kita karena Alkitab memberikan contoh bahwa Daud pernah berhadapan dengan banyak musuh dan ia dapat bersaksi melalui pembacaan ayat-ayat tadi bagaimana ia kehilangan rasa takutnya. Untuk itu, mari kita pelajari bersama ayat-ayat tersebut (ini seri 1 dari 3 seri Mazmur 27).

Di ayat 1, Daud menyebut TUHAN adalah terangku, keselamatanku dan benteng hidupku. Ketika ia menyebut tentang TUHAN, maka rasa takut dan gemetar kepada seseorang atau sekelompok musuh tidak dianggap ada olehnya. 

Perhatikan, frasa 'aku harus takut' dan frasa 'aku harus gemetar' menggunakan kata kerja Ibrani dalam bentuk imperfect, yang berbicara tentang tindakan yang sedang berlangsung, demikian juga dengan kata 'berkemah', 'tidak takut' dan 'timbul' di ayat 3. Sementara itu, kata 'tergelincir' dan 'jatuh' memakai kata kerja Ibrani berbentuk perfect.

Dengan demikian, apapun yang dilakukan para lawan dan musuh Daud, mereka tidak akan pernah berhasil karena tergelicir dan jatuh itu telah menjadi bagian yang ditetapkan Tuhan bagi mereka.

Sedangkan bagi Daud, setiap upaya serangan terhadap dirinya tidak menimbulkan rasa takut dan gemetar karena TUHAN sedang bersama dengan dia.

Ketika musuh menginginkan ia tersesat di kegelapan, TUHAN menerangi hidup dan langkahnya. Ketika musuh ingin membunuhnya, TUHAN menyelamatkannya. Dan ketika musuh mengepungnya, maka TUHAN membentenginya.

Kompasianer yang terkasih, kuncinya sederhana yaitu Daud memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Buktinya ketika Daud berkata TUHAN adalah terangku, keselamatanku, dan benteng hidupku. Perhatikan: terang, keselamatan dan benteng hidup menunjuk pada pribadi TUHAN, sedangkan kata ganti milik yaitu 'ku' menunjuk pada pribadi Daud.

Jadi, Daud terintegrasi dengan TUHAN sehingga tidak mengherankan jika ia tidak merasa takut dan gemetar meskipun musuh datang silih berganti imannya tidak goyah (di ayat 3 dikatakan "dalam hal itupun aku tetap percaya").

Kompasianer, masalah dan tantangan hidup akan silih berganti mendatangi kita semua, tetapi percayalah Tuhan akan selalu bersama kita, bagi jemaat yang dikasihi-Nya. Ingat, sebagaimana Daud terintegrasi dengan TUHAN, demikian pula dengan kita jika ada di dalam Tuhan Yesus, Sang Pokok Anggur itu (Yoh. 15:4-7).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline