Lihat ke Halaman Asli

Tabrani Yunis

TERVERIFIKASI

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Agar Anak-anak Tidak Melupakan Sejarah

Diperbarui: 6 Desember 2019   10:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok.Pribadi

 Oleh Tabrani Yunis 

Sebenarnya, niat untuk menulis tulisan ini adalah langsung setelah penulis usai menjadi narasumber pada kegiatan Diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) yang bertajuk " Buku Sejarah Untuk Anak-Anak" yang diselenggarakan di hotel Permata hati, jalan Kereta Api, Meunasah Papeun, Aceh Besar pada tanggal 28 November 2019.

Ya, niat hati, memang sepulang dari kegiatan tersebut, langsung menulis. Namun, apa boleh dikata, kala itu kondisi perut tidak stabil, karena terganggu rasa sakit, berangin, karena mencret alias diare. Bukan hanya hari itu terganggu, tetapi hingga saat menulis tulisan ini, kondisi perut masih terasa tidak nyaman.

Karena niat yang kuat, dalam kondisi yang agak terganggu pun tetap ditulis. Walau, tulisan ini  tertunda hingga beberapa hari, lamanya. Buktinya, barulah malam ini, tanggal 06 Desember 2019  niat menulis itu diwujudkan dengan mengingat kembali apa saja yang telah dicatat kala itu. 

Masih belum hilang dari ingatan, apalagi ada catatan-catatan kecil yang ditulis di notes handphone kala mengikut acara pembukaan kegiatan tersebut. Ya,  masih segar dalam ingatan akan apa dipaparkan oleh Dra. Irmayani, Kepala Bidang  Sejarah dan Nilai Budaya, Disbudpar, Aceh ketika membuka acara sehari tersebut.

Paling kurang, ada 3 alasan yang melandasi Dinas Pariwisata Aceh membuat buku sejarah bagi anak-anak ini serta melakukan kegiatan diskusi terfokus ini. Karena kegiatan FGD ini justru sebagai salah satu dari rangkaian penulisan buku sejarah untuk anak-anak, sebut Irmayani. Lebih lanjut , katanya lagi bahwa sesungguhnya, Kita di Aceh ini memiliki kekayaan sejarah dan dalam kurun waktu yang panjang, besar dan terkenal sejak abad ke 7.

Namun banyak sekali sejarah Aceh yang belum ketahui, bukan saja oleh kalangan anak-anak, tetapi juga kalangan orang dewasa. Apalagi bagi anak di era milenial dan era digital ini? Seperti kita ketahui bahwa generasi milenial yang konon hebat dan lihai dalam menggunakan teknologi, sudah banyak yang melupakan pelajaran sejarah.

Ditambah lagi yang namanya mata pelajaran sejarah, baik sejarah Indonesia, maupun sejarah dunia, sudah hilang karena disatukan dalam mata pelajaran IPS. Maka, dapat dipastikan bahwa banyak fakta sejarah yang tidak diketahui anak. Padahal, bangsa kita Indonesia memiliki kekayaan khasanah sejarah.

Begitu pula halnya dengan Provinsi Aceh dimana perjalanan sejarah Aceh sejak masa kejayaan kerajaan Aceh. Bayangkan saja, saat ini di Aceh terdapat lebih dari 770 situs sejarah. Jumlah itu bahkan merupakan jumlah yang baru terdata. Jadi, masih banyak sekali yang belum terdata. 

Hal lain yang juga menjadi landasan kuat untuk membuat buku cerita anak mengenai sejarah Aceh adalah minimnya pengetahuan anak tentang sejarah Aceh, belum atau kurang tersedianya bahan bacaan sejarah bagi anak-anak mendorong Dinas Pariwisata Aceh mengambil inisiatif untuk menyusun buku yang berkaitan dengan situs sejarah yang ada di kota Banda Aceh.

Selain itu, bila kita melihat pada sosok tokoh-tokoh pejuang Aceh yang dikenal oleh anak-anak, sepertinya hanya pada tokoh-tokoh pejuang Aceh yang sudah dinyatakan sebagai pahlawan nasional, seperti Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Cut Meutia dan Laksamana Malahayati. Padahal, Aceh sesungguhnya memiliki banyak tokoh sejarah yang mereka selama ini seakan tenggelam dengan yang beberapa nama tokoh yang disebutkan di atas. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline