Lihat ke Halaman Asli

Suradin

Penulis Dompu Selatan

Shalat Jumat di Masjid Desa Jala

Diperbarui: 30 Oktober 2021   13:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri. Suradin

ADZAN baru saja dilantunkan ketika kuda besi merek Jupiter saya parkir di depan masjid. Terlihat jamaah sudah ramai memenuhi syaf. Saya bergegas mengambil air wudhu sebelum Khotib menaiki mimbar. Karena mengingat kata tetua kampung, kalau Khotib sudah di atas mimbar, maka sia-sia lah amal ibadah yang dikerjakan. Tidak ingin ibadah apes, saya berpacu dengan waktu, lalu mengambil posisi Shalat dua rakaat setelah usai mengambil air wudhu. Karena terlambat, saya hanya bisa Shalat di dekat pintu masjid.

"Tak apalah, yang penting bisa memenuhi kewajiban, bukan menggugurkan kewajiban" Ucap saya dalam hati.

Dokpri. Suradin

Usai adzan berkumandang, sejurus kemudian saya mengangkat takbir.  Memusatkan pikiran pada sang kuasa semesta. Merapalkan ayat-ayatnya. Meresapi setiap kalimatnya. Ada kekuatan di dalamnya yang sabang waktu menjadi pijakan. Bersujud ke lantai, langit bisa mendengar. Padanya semua diserahkan. Memunajatkan harapan yang belum sampai-sampai. Mengharap semua menjadi nyata, agar tidak memberi beban pada hari-hari yang dijalani. Kesabaran dan ketabahan adalah dua kata yang selalu diwartakannya sebagai fondasi.

Usai Shalat dua rakat, di atas mimbar Khotib yang sudah sesepuh itu mengingatkan para jamaah dengan mengutip ayat tuhan yang cukup panjang. Jujur saya tidak mengerti. Jangankan maknanya, artinya saja saya kelimpungan. Tapi saya sering mendengar ayat itu dibacakan setiap menunaikan Sholat Jumat. Tapi sampai saat ini, saya belum memahami ayat pembuka itu. Dalam hati saya hanya meyakini, bahwa ayat yang dibacakan mengandung pujian kepada Allah, kepada Rasul Muhammad beserta nasehat kepada umat manusia, agar selalu meningkatkan amal ibadah dan bersandar hanya kepada yang maha kuasa. Bagaimana pun situasi dan keadaannya.

"Bekerjalah engkau, tapi jangan sampai engkau melupakan akhirat mu, sebab hidup ini hanyalah persinggahan saja". Ucap Khotib, mengingatkan Jamaah, Jumat, 29 Oktober 2021.

Dalam upaya menaklukkan kantuk yang menyerang, saya mencoba memahami setiap ucapan yang disampaikan sang Khotib. Terlebih pelafalannya terhadap satu kalimat kadang tidak terdengar jelas. Sementara kelopak mata saya kadang harus berjuang sekuat mungkin menahan kantuk yang tak berhenti menyemut. Sementara seorang bapak yang duduk tak jauh dari tempat saya duduk, terlihat sudah terlelap. Saya tidak enak hati menegur, sementara marbut di awal-awal sudah mengingatkan kepada seluruh jamaah untuk tidak berkata-kata karena itu bisa melunturkan amal ibadahnya. Jadilah saya memilih diam dan mendengarkan.

Dokpri. Bersama bang Erros

Kemudian Khotib mengutip lagi ayat tuhan yakni surat Al Qashash yang merupakan surat ke 28 dalam kitab suci Alquran.

"Berbuatlah baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, Dan jangan kamu berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" Pintanya

Ayat ini menghentak batin saya. Maklum saya bukan muslim yang baik. Tidak banyak ayat yang saya hafal dalam Alquran. Paling Al 'ikhlas, Alfatihah. Itu pun hanya bisa baca, tanpa benar-benar memahami maksud terdalam ayat tersebut. Setiap Shalat hanya ayat-ayat itu yang menjadi andalan saya. Sementara untuk ayat yang lain, saya harus jujur langsung angkat tangan.

Ayat ini serupa menampar batin saya untuk bisa memberi manfaat pada siapa pun. Tidak hanya kepada yang seiman, tapi kepada mereka yang menaruh harap pada batuan orang lain ketika dalam situasi terjepit. Ayat itu telah menghujam keegoisan saya sebagai manusia yang selalu abai terhadap sesama. Tampaknya selama ini saya terlalu menghitung-hitung kepada siapa harus di bantu. Di tolong. Sementara tuhan yang saya sembah saat ini memerintahkan dan menganjurkan berbuat baik terhadap sesama. Kepada siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Karena menurutnya, sebaik-baik hambanya adalah yang memberi manfaat pada sesama.

Saya kembali termenung dengan mencoba memahami kalimat terakhir ayat tersebut. Tiba-tiba pikiran saya langsung  terbawa ke penggundulan gunung yang tampaknya sampai saat ini belum menyentuh mata hati mereka yang belum berhenti melakukan penebangan. Gunung serupa pelampiasan manusia untuk meraih lembaran-lembaran rupiah tanpa pernah menyadari bahwa mereka sedang melakukan kerusakan. Dan sampai saat ini tetap masif dilakukan. Terlebih sudah masuk musim penghujan persiapan penanaman mulai tampak. Tanpa pernah terpikir dampak yang akan ditimbulkan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline