Lihat ke Halaman Asli

Suradin

Penulis Dompu Selatan

Seni Bertetangga di Desa: Merawat Tradisi, Mengawetkan Budaya, dan Menguatkan Solidaritas

Diperbarui: 22 Oktober 2020   05:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri. Saat Menyembelih Kambing, dusun Kuta, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu-NTB

Dalam berbagai hajatan; sunatan, selamatan, pernikahan, umumnya dilaksanakan secara meriah di kampung saya, Dusun Kuta, Desa Rasabou, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu-NTB. Biasanya acara pernikahan dan sunatan dilaksanakan setelah usai musim panen. 

Walaupun tidak selalu demikian. Namun biasanya demikian. Tapi belakang ini, acara pernikahan dilangsungkan pada saat musim kemarau melanda. 

Rabu ini, 21 Oktober 2020, tetangga saya sedang melakukan persiapan akhir sebelum menggelar acara pernikahan keesokan harinya. Segala kebutuhan disiapkan sejak jauh-jauh hari agar acara lancar.

Salah satu yang cukup menonjol adalah persiapan konsumsi. Ibu-ibu terlihat sangat sibuk memasak segala jenis makanan. Sebagai tetangga yang baik, ibu saya juga ikut ambil bagian dalam persiapan tersebut. Kalau pun ibu pulang ke rumah, paling sholat atau hal-hal yang penting saja, selebihnya waktunya banyak dihabiskan di tempat hajatan. 

Dokpri. 

Dokpri

Di desa, ketika dilangsungkan suatu hajatan, warga akan datang berbondong-bondong untuk menyukseskan suatu acara. Mereka datang dengan inisiatif sendiri tanpa harus menunggu perintah dari pihak manapun. Solidaritas itu masih mengawet hingga kini. Bahkan ini menjadi tradisi yang sudah turun temurun.

Satu warga punya hajatan, hampir semua warga akan mengambil bagian. Mereka memberikan kontribusi dan sumbangsih tanpa pamrih. Ibu-ibu biasanya akan sibuk di dapur. Sedangkan untuk yang bapak-bapaknya akan mengatur baruga, memotong kayu, dan menyembelih hewan; kerbau, sapi, ayam maupun kambing. 

Acara pernikahan tetangga saya kali ini menyembelih dua ekor kambing dan satu kerbau. Melihat beberapa warga mulai terlihat kumpul di pagar dekat rumah, saya pun ikut nimbrung untuk membantu.

Saya mencoba membantu sebisa yang bisa saya lakukan. Kambing yang disembelih kemudian diikatkan kakinya lalu digantungkan disebuah pohon, sejurus kemudian dikupas kulitnya dengan menggunakan pisau yang tajam.

Selain memegang, saya pun ikut mencoba untuk mengiris daging kambing yang masih cukup segar terlihat. Lalu kemudian ibu-ibu datang menyodorkan ember untuk menampung daging kambing yang sudah dipotong-potong.

Dokpri

Dokpri

Untuk menyembelih kambing tentu harus ada yang memiliki keahlian khusus dalam bidangnya. Sebab, rasa daging kambing yang nantinya sudah dimasak sangat bergantung siapa yang menyembelihnya. Bagaimana korelasinya, sejauh ini saya belum benar-benar tahu. Tapi, masyarakat meyakini demikian.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline