Lihat ke Halaman Asli

Supli Rahim

Pemerhati humaniora dan lingkungan

Elegi Mahasiswaku Pasien Covid 19

Diperbarui: 8 Agustus 2020   12:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Bismillah,

Di kampus saya memang heboh bahwa pandemi covid 19 telah menyebabkan pelaksanaan tridharma PT ditiadakan. Jika ada rapat dosen atau rapat dosen maka dilakukan secara daring. 

Awalnya dilakukan di kampus denga  menggunakan standar protokol kesehatan - jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. Tapi sudah lima bulan ini kegiatan kampus diliburkan. Kuliah, seminar proposal dan ujian tesis dilakukan dengan media. Tulisan ini ditulis dengan gaya aku.

Cerita mahasiswaku

Fita, sebut saja namanya begitu, bukan satu-satunya mahasiswaku yang terpapar covid 19, tetapi adalagi Enny, seorang dokter, harus dirawat, diisolasi di kota terpisah. Dalam artikel ini hanya elegi mahasiswaku yang lain. kejadiannya jauh sesudah kejadian nahasiswa yang terpapar lebih awal.

Awal masuk rumah sakit pada tanggal 19 juni 2020 jam 4 sore. Setelah tahu hasil swab test positif covid 19, aku dan suami berembuk demi kebaikanku apakah di rawat atau isolasi mandiri di rumah, dan kebetulan suami kerja di rumah sakit XXX di ruang IGD. Setelah berembuk dengan suami, orang tuaku dan mertua demi kebaikan anak-anak dan suami akhirnya aku diisolasi di rumah sakit tersebut. Waktu itu aku memberitahu dosen pembimbingku. 

Kebetulan ini bertepatan dengan persiapan mau ujian sempro dan memberitahu dosen prodi PPSKM Ibu Dian Eka Anggreni bahwa saya sakit (covid 19 ini). Bu Dian Eka Anggreni menyemangati dan menyarankan dirawat saja di RS.

Sementara pembimbingku menyarankan dirawat di rumah saja karena nanti aku akan bosan, katanya. Tetapi suami dan keluarga memutuskan untuk di rawat dan anak-anak diasuh mertua di Sekayu. Kalau mau diasuh ibu dan ayahku terlalu jauh yakni di liar provinsi Sumatera Sekatan.

Aku berangka ke rumah sakit pada tanggal 29 sore pukul 16.00 wib. Aku daftar dulu dan menunggu di tenda untuk masuk ke ruang covid di Lantai 4. Sembari menunggu dipasang infus. Masuk ruangan sekitar waktu maghrib.

Suami tidak bisa mengantar sampai ke ruangan karena keluarga tidak bisa masuk ke ruangan dan tidak bisa juga dibezuk. Aku diantar perawat sore ke ruangan dengan kelas 2.  Sesudah masuk dan istirahat di ruangan. Setelah waktu isya aku diberi obat injeksi. Obat yang disuntik sangat sakit sampai ke semua lubang (hidung, telinga, mata, mulut, di kemaluan) terasa panas beruap. Aku menangis mengiba pada Allah. Ya rabb ampuni dosa-dosa hamba ini.

Seumur hidup aku, baru itulah dapat obat sesakit itu.  Aku bertahan dua hari pakai obat itu dan akhirnya menyerah dan minta obat oral saja akhirnya infus pun di lepas).  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline