Lihat ke Halaman Asli

"Amerika Memang Super Power, China Masih Jadi Ekor Naga, NKRI Masih Ditataran Egois Cakar-cakaran Sendiri"

Diperbarui: 11 Agustus 2015   23:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="berita-unik-seru.blogspot.com"][/caption]

 

OPINI “Analisa EDAN” | (SPMC) Suhindro Wibisono

.

Pada kisaran Juli 2014, harga minyak mentah ada dikisaran lebih dikit dari US$ 100 per barel, lalu menjelang akhir Oktober 2014 harga minyak mentah sekitar US$ 87 per barel, dan sekarang ada "dikisaran" US$ 50 per barel, maaf kalau salah data, dan memang itu juga bukan gambaran angka yang tepat, hanya memberi gambaran sudah hampir setahun harga minyak mentah tidak mampu kembali ke harga kisaran US$ 100 per barel. Itu juga berarti “menyalahkan” banyak prediksi para analyst maupun para pengamat yang telah meramalkan harga minyak mentah itu sendiri. Awalnya mereka mengatakan karena krisis negara di TimTeng, ISIS, Yunani, Krisis Ekonomi Dunia, dan masih seabrek analisa, prediksi, dan alasan lainnya. Intinya penurunan harga adalah sementara. Melihat kenyataan saat ini, apakah boleh disimpulkan harga saat inilah standard harga minyak mentah era sekarang?

Dan saya tidak mengupas tentang mengapa pada era Presiden Jokowi justru harga BBM dinaikkan padahal harga minyak mentah dunia justru turun, karena saya sudah pernah mengupas tentang hal itu.

Yang ingin saya "obrak-abrik" adalah, kenapa harga minyak mentah tidak bisa naik lagi dikisaran US$ 100 per barel, kenapa? Mengingat kebutuhan BBM yang sangat besar oleh Indonesia karena produksi minyak dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan, sementara dari tahun ketahun kebutuhan akan BBM semakin banyak, penjualan mobil dan motor selalu fenomenal, sementara tidak pernah dengar mobil dan motor lama dinyatakan tidak berlaku lagi kecuali memang sudah tidak bisa digunakan. Pendirian pabrik-pabrik, juga pemerataan kebutuhan listrik diseluruh pelosok negeri, itu semua membutuhkan listrik, dan listrik dihasilkan juga dari BBM. Semoga banyak pembangkit listrik yang dibangun tidak pakai BBM, tapi energy yang lain. Dan logikanya banyak negara lain di dunia yang juga kebutuhan BBM-nya meningkat bukan?

Amerika dan China adalah dua negara raksasa yang wilayahnya juga sangat luas, dan sesungguhnya mereka juga punya sumber migas. Tapi karena Amerika paham bahwa minyak di perut bumi itu tidak bisa diperbaharui lagi, alias akan habis karena terus disedot, maka Amerika menggunakan strategi “tidak” menambang minyak diperut buminya. Begitu juga China, yang menurut prediksi saya, dia selalu mengekor Amerika, itulah sebab Amerika dan juga usahawannya yang ditunjang dengan teknologi yang dimiliki justru berburu minyak di negara-negara lain. Dia pikir akan jadi jawara di dunia setelah banyak negara kehabisan minyak lalu baru menambang minyak dari perut buminya sendiri. Sekali lagi China tidak perlu berpikir panjang, cukup mengekor saja, China juga tidak menambang minyak diperut buminya.

Belakangan ini Amerika mulai menambang minyak, China juga mengekor, jadilah produksi minyak dunia berlebih, OPEC juga tahu apa yang dipikir Amerika, maka merekapun juga tidak mau mengurangi produksinya, jadilah hukum ekonomi yang sudah sangat tradisional, supply vs demand, jadi harga minyak mentah tidak bisa mencapai “cepek” US$ lagi per barelnya!

Apa gerangan yang menyebabkan Amerika berubah haluan? Padahal keyakinannya sudah dipertahanan sekitar seabad, apakah mereka tidak takut anak cucunya tidak jadi hebat?

Amerika menyadari BBM (energi fosil) dimasa depan bukanlah energi terpenting lagi, nuklir, air, sinar matahari, angin, dll, adalah energi terpenting nanti , dan teknologi accu dan solar-cell adalah juga sarana penting penyimpan dan penyedia energi itu sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline