Lihat ke Halaman Asli

Masalah Sosial dan Makna Menara Masjid

Diperbarui: 5 Agustus 2017   12:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Para yang terlibat dalam pembakaran manusia secara hidup-hidup, betapa pun yang jadi korban itu seorang pencuri, masih bisa makan enakkah sesudah keterlibatannya? Dan ketika sedang beribadah, doa apa yang dipanjatkannya? Atau barangkali tak pernah beribadah dan tak pernah makan? Kalau begitu, tergolong apa? Masihkah pula menjadi anggota masyarakat? Ketahuilah, pencuri itu, dan juga pencopet serta lainnya, termasuk para penyandang masalah sosial, mereka punya ibu kandung, yaitu masyarakat.

Mereka menyandang penyakit sosial. Masyarakat punya tanggungjawab juga untuk menyembuhkannya. Biar pun berat, kalau bareng-bareng akan terasa lebih ringan. Diantara warga masyarakat, semoga masih cukup banyak yang punya kesadaran tinggi untuk senantiasa berusaha menghindarkan diri terlibat dalam kecurngan-kecurangan. Dengan demikian yang terbiasa dalam kecurangan-kecurangan pun bisa sama-sama membantu menyembuhkan penyandang penyakit sosial, dalam norma dan etika sosial. Bersama masyarakat, masing-masing anggota masyarakat masih bisa berbuat kebaikan, meski mungkin perilakunya terburuk diantara sesama warga di lingkungannya.

Mungkinkah mereka yang melakukan pembakaran seseorang yang diduga pencuri, secara hidup-hidup, itu tercerabut dari masyarakatnya? Mungkin. Atau, mungkinkah malah mereka orang suci? Tidak mungkin. Karena orang suci tak mungkin melakukan perbuatan seperti itu. Bahkan, apakah mereka termasuk orang yang punya kesadaran tinggi untuk senantiasa berusaha menghindarkan diri terlibat dalam kecurangan-kecurangan? Ini pun meragukan. Sebab kalau ya, untuk apa melakukan perbuatan yang mengkhianati kemanusiaan?

Atau barangkali mereka orang baik? Tetapi mengapa melakukan perbuatan yang lebih tidak baik daripada yang dilakukan oleh orang yang tidak baik, yaitu karena mencuri, yang jadi korban ketidakbaikannya? Jangan-jangan mereka merasa sebagai orang baik. Runyamlah.

Bagaimana jadinya kalau seseorang pencuri, siapa pun dan di mana pun, terpaksa mencuri karena ibunya sakit? Atau karena hal-hal lain yang mengandung kisah mengharu-biru? Bukankah justru seharusnya ditolong? Lebih-lebih lagi kalau orang yang dianiayanya sampai mati dengan kesadisan luar biasa, misalnya, tidak melakukan perbuatan mencuri, aduh.... 

Mereka yang melakukan kesadisan luar biasa semacam itu merasa sebagai orang baik. Inilah yang paling mungkin, dan jangan-jangan juga merasa benar sendiri. Maka runyamlah keadaan. Bayangkan; tidak pernahkah mereka menerobos lampu merah, melawan arus dalam berlalulintas? Bagaimana lalu bisa merasa sebagai orang baik? Tidak pernahkah mereka membuang puntung rokok sembarangan? Tidak pernahkah menggelapkan uang bosnya, meski hanya lima atau sepuluh ribu rupiah?

Mereka hampir dapat dipastikan tidak menghayati makna menara masjid. Padahal seharusnya tahu, mengapa dulu menara perlu dibangun melengkapi bangunan masjid. Kalau hanya agar suara adzan bisa lantang berkumandang, memang sekuat apa suara manusia. Lagipula suara adzan tak perlu keras-keras, sampai memekakkan telinga. Suara hati yang perlu keras-keras. Suara hati dengan kasih-sayang perlu menggema sampai menggetarkan perasaan siapa saja.

Menara masjid bukan hanya untuk mengumandangkan adzan, tanda waktu shalat telah masuk dan menyeru untuk mendirikan shalat, dan lebih bagus kalau shalat itu dilakukan berjamaah di masjid. Menara masjid juga untuk melihat, apakah di "suatu pagi itu" ada warga sekitar masjid yang dapurnya tidak ngebul? Kalau ada, maka pengurus masjid akan segera memberikan bantuan, siapa pun orangnya, apa pun agamanya.

Persoalan serius dan sangat mendasar tengah menggerogoti hakekat. Semoga kita tak makin terseret dalam lembah menuju jurang kemiskinan hakekat. Mengapa kita? Ya, karena persoalan bersama perlu diangkat dan didudukkan, untuk direngkuh bersama-sama. Mungkinkah kita berani mengoreksi diri, dan bersama-sama mengoreksi kebersamaan kita? Tentu mungkin, dan itu sangat mungkin. Diri sendiri, diri komunitas, diri entitas-entitas, dan bersama-sama mengembangkan kebersamaan dan kekeluargaan. Juga komunitas-komunitas yang bersifat agama, sudah pasti.

Semoga tak berlama-lama lagi dalam kesombongan, dan tidak makin jadi sombong. Semoga tak berlama-lama lagi memisahkan kata "Ihsan" dari "Iman" dan "Islam" seperti yang belakangan ini terjadi, jangan pula makin menjadi-jadi. Saya telah lama sekali memperhatikan, sudah bertahun-tahun, sungguh amat sangat jarang sekali mendengar kata "Ihsan" diucapkan serangkaian dengan kata-kata "Iman" dan "Islam" pada pengantar macam-macam sambutan dalam berbagai kesempatan. Tidak seperti waktu saya kecil dulu.

Akhir-akhir ini sungguh amat sangat jarang sekali, sedangkan yang ada, setelah "beliau-beliau" mengajak kita-kita mensyukuri atas nikmat Iman, nikmat Islam, biasanya disambung dengan kata-kata "nikmat panjuang umur, sehat wal afiat", kadang-kadang ada pula kata-kata "murah rezeki". Tentu tidak ada salahnya, dengan alasan konteksnya, umpama, "....panjang umur sehat walafiat, sehingga bisa bertemu di tempat ini..."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline