Lihat ke Halaman Asli

Zulfikar Akbar

TERVERIFIKASI

Praktisi Media

Setelah Ramai-ramai Mengeroyok Afi

Diperbarui: 5 Juli 2017   19:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Afi saat bertemu Presiden Joko Widodo di istana negara - Gbr: Tribunnews/Agus Suparto

Afi Nihaya Faradisa. Itulah nama yang belakangan ini mencuri perhatian banyak kalangan, tak terkecuali presiden Joko Widodo pun mengundangnya ke Istana. Bukan nama asli, sebab gadis berusia 18 tahun tersebut memiliki nama Asa Firda Inayah. Belakangan, keaslian tulisan dia pun mencuri perhatian tak kalah besar dibandingkan saat ia melejit lewat status-status Facebook yang konon ditulisnya.

Saya pribadi tak ingin menghakimi, terlepas berbagai tuduhan dilempar kepadanya lengkap dengan seabrek bukti. Melihat dari kedua sisi secara seimbang terasa lebih baik. 

Mereka yang memilih untuk mengangkat persoalan dugaan keculasan yang terjadi, tak dapat dituduh ingin mengambil tempat untuk turut mendapatkan popularitas. Sebab, boleh jadi mereka hanya tergerak untuk melawan segala bentuk plagiarisme, dan sebisa mungkin menghentikan budaya itu sejak awal.

Walaupun, secara pandangan pribadi, terasa kurang elok juga jika mengkritik satu figur yang belum dapat dipastikan kestabilan emosi dan mental di depan publik. Sebab, terlepas niat baik, jika dilakukan dengan cara kurang baik, tak dapat menjamin akan menghasilkan efek baik.

Tentu saja, ketidaksetujuan atas kritik di depan publik yang menjadi sikap saya pribadi-sebagai salah satu netizen, blogger, sekaligus pewarta-atas kasus itu, tak berarti membenarkan plagiarisme.

Hanya, yang saya kira sangat dibutuhkan di tengah fenomena ini adalah mendudukkan kasus itu pada porsi yang tepat. Bereaksi terlalu berlebihan atas sebuah kasus, melibatkan seorang remaja yang terbilang "wajah baru" di dunia literasi, alih-alih membantunya lebih baik dapat saja menjadi sebuah "pembunuhan" yang lebih mematikan daripada pembunuhan yang menghilangkan nyawa.

Setidaknya, begitulah menurut hemat saya pribadi.

Bagaimana mendudukkan masalah itu pada porsinya? Untuk sekarang, nyaris mustahil. Kenapa? Karena kalangan netizen pun sudah menjadikan kasus itu sebagai viral, dan di sisi lain media-media mainstream pun telah menjadikan kabar itu sebagai sorotan yang lagi-lagi menuai perhatian publik. Terlepas media mainstream ada yang berupaya mendudukkan kasus ini pada tempatnya, tapi tetap saja "pembunuhan" itu telah terjadi.

Kalaupun ada yang dapat dikatakan masih untung, karena Afi masih bernapas, dia masih menjalani hidupnya, dan dia pun memikul sebuah beban mental yang tidak ringan. Sebab terlepas kebenaran seputar dugaan yang dilemparkan kepadanya, tapi "pengeroyokan" atasnya itu terlalu besar. Tenaga mereka yang "membantai" gadis tersebut karena "kesalahan" yang dilakukan karena--saya duga--belum memahami etika kepenulisan dengan baik, terlalu besar. Sedangkan Afi tetaplah seorang gadis, yang baru menapaki dunia sebagai orang dewasa, persis di anak tangga pertama.

Mungkin iya, pengalaman popularitas yang kompleks sekaligus, baik dan buruk, menerpanya boleh jadi akan menjadi titik balik penting baginya. Mungkin kelak dia akan berkaca pada pengalaman ini, dan betul-betul mengeluarkan talenta terbaiknya; tapi juga bukan tak mungkin terjadi berbagai efek lainnya.

Pesan bagus Mark Twain - Gbr: timmilesco.com

Sebagai salah satu penulis yang mengawali dunia kepenulisan dari penulis surat cinta bayaran hingga bekerja di media mainstream, saya merasakan bahwa beban Afi itu berat. Saya pun dapat merasakan rumitnya perjalanan yang baru ditapaki Afi.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline