Lihat ke Halaman Asli

Gempa M5,6 Cianjur Buktikan Ketidaksiapan Mitigasi

Diperbarui: 5 Desember 2022   08:48

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Peta Episenter Gempabumi Cianjur Sumber: menarainfo.valoranews.com

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah salah satu negara yang terletak di wilayah "cincin api". Sematan tersebut bukanlah gelar tanpa alasan, sebagaimana dapat kita amati secara langsung, peta topografi Indonesia dipenuhi dengan tonjolan-tonjolan yang berbaris atau membentuk bentengan di sepanjang sisi selatan dan barat-daya kepulauan Indonesia. 

Kenampakan alam Indonesia yang eksotis bukan muncul tanpa sebab. Proses pembentukan daratan di sepanjang sirkum pasifik sangat kompleks dan telah melalui berbagai macam proses lipatan, patahan, dan peristiwa geologis lainnya. Peristiwa alamiah yang membentuk bentang alam Indonesia tidak terlepas dari peranan lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak dan mengakibatkan fenomena alam yang manusia sebut sebagai "bencana".

Peristiwa gempabumi Cianjur mengagetkan kita semua. 

Bagaimana tidak, kawasan yang berada di lereng Gunung Gede-Pangrango (GePang) sama sekali tidak kita duga dapat menjadi episentrum (pusat gempa) berkekuatan 5,6 Magnitudo. Semua orang panik. Semua orang berlarian kesana-kemari. Semua orang bertanya dengan penuh keheranan, "loh kok gempa?"

Riwayat kegempaan yang pernah terjadi di wilayah Cianjur yaitu pada tahun 1844 dan 1910 yang terulang pada tahun 1912. Peristiwa gempabumi selanjutnya terjadi lagi pada 2 November 1968 dan 10 Februari 1982 dengan masing-masing kekuatan M 5,4 dan M 5,5. Tercatat, peristiwa gempabumi yang pernah melanda Cianjur-Sukabumi terjadi pada 12 Juli 2000 yang mengakibatkan 1900 rumah rusak berat. 

Lantas, apa yang dapat kita pelajari dari peristiwa yang berulang tersebut?

Tidak ada.

Betul, selama bencana tidak lagi datang, kita menjadi lupa. Kita lupa cara membaca gejala alam. Kita lupa untuk melakukan tindakan korektif. Kita sama sekali abai untuk mempersiapkan prosedur preventif. Bencana yang sudah berlalu akan terlupakan seiring dengan datangnya gelombang donasi, dan munculnya tokoh-tokoh politik di tengah puing-puing bangunan. 

Bukankah seharusnya kita belajar dari peristiwa alam yang selama ini terjadi?

Gempabumi dan erupsi gunung berapi adalah dua peristiwa yang tidak dapat diprediksi, namun dapat kita amati gejalanya. Sayangnya, hiruk-pikuk manusia di kawasan konservasi membuat semua pengamatan tampak bias. Keberadaan tempat-tempat wisata dan "spot healing" membuat beberapa kawasan konservasi banyak didatangi pengunjung yang ingin menukar uangnya dengan pengalaman berlibur. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline