Lihat ke Halaman Asli

SISKA ARTATI

TERVERIFIKASI

Ibu rumah tangga, guru privat, dan penyuka buku

Nostalgia Ramadan Masa Kecil, Kenangan Abadi Sepanjang Masa

Diperbarui: 19 April 2021   11:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi gambar Meriam Bumbung: https://inibaru.id

Pembaca Kompasiana yang ngangenin

Masa kecil selalu menyenangkan, meski di beberapa kejadian ada saja yang membuat kita mewek karena ulah usil kawan atau saudara sendiri. Bila mengingat kenangan yang silih berganti, maka senyum terkulum menghiasi wajah. Itu karena pun menganggapnya sebagai kelucuan masa anak-anak  setelah usia semakin bertambah.

Pun demikian dengan saya. Kali ini berbagi kisah mengenal bulan ramadhan saat memasuki usia empat atau lima tahun. 

Selain pengenalan dari Ibu Guru di Taman Kanak-Kanak, juga aktivitas sahur dan buka bersama dengan keluarga, setiap ramadan saya hanya menjalani puasa beberapa jam sebagai latihan. Pengenalan ini mengantarkan saya tentang pengetahuan puasa wajib bagi ummat Islam. 

Puasa setengah hari - berbuka saat adzan zuhur - saya lakukan pada usia sekitar enam atau tujuh tahun, kelas satu dan dua sekolah dasar. Kemudian ketika usia delapan tahun, berbuka saat adzan zuhur, kemudian lanjut puasa lagi hingga berbuka yang kedua pada saat adzan maghrib. Puasa bersambung, demikian saya menyebutnya. Orangtua melatih si Bungsu ini dengan cara demikian. Alhamdulillaah, akhirnya saya bisa melaksanakan puasa ramadhan secara penuh dari sejak sahur sebelum subuh hingga berbuka saat adzan maghrib dikumandangkan pada usia delapan tahun ke atas.

***

Kenangan demi kenangan manis akan suasana dan pengalaman ramadan di masa kecil mengalirkan kisah abadi di ingatan saya.

Perihal sahur, dengan sukacita saya bangun dan makan bersama keluarga. Hal yang unik bagi saya yang masih kanak-kanak, sarapan kok pagi-pagi banget, masih dalam keadaan mengantuk, tapi harus mengkonusmsi asupan makanan berat. Begitu pikir saya. Kakak dan orangtua menjelaskan sebisa dan semampunya agar si adik mudah mencerna, apa dan mengapa harus sahur.

Saat itu keluarga kami tinggal di rumah dinas lingkungan Pabrik Gula. Ada masa dimana bapak tugas dinas shift malam hingga pagi di bulan Ramadhan, sehingga saya menemani kakak mengantarkan menu sahur untuk beliau di kantornya justru ba'da tarawih di atas jam sembilan malam.. Biasanya kami tidak langsung pulang ketika mengantar masakan ibu. Sesampai di ruangan Bapak, terkadang beliau mengijinkan kami jalan-jalan sejenak melihat aktivitas pabrik di malam hari saat menggiling tebu. 

Saya menyukai suara mesin-mesin besar bergerak berirama, berdentum dalam ruangan yang sangat besar, bagai harmoni yang otomatis memainkan nada-nada. Apalagi jika mau bicara harus teriak-teriak supaya terdengar orang lain, agar mengalahkan deru mesin yang menggema. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline