Lihat ke Halaman Asli

Kenapa Wanita Dianiaya?

Diperbarui: 14 Juni 2016   16:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

“Andaikan DITA adalah Ibu Megawati Soekarno Putri Yang Dalam Keadaan Mabuk, Beranikah Masinton Memukulnya?”

Setiap hari, banyak kaum wanita yang dipukuli, ditendangi, dilukai, dipermalukan, diancam, korban pelecehan seksual, dan bahkan dibunuh oleh pasangannya. Tetapi sering kita tidak mendengar kejadian kekerasan tersebut, karena wanita yang menjadi korban sering merasa malu, sendirian, dan takut untuk membicarakannya. Data Komnas Perempuan 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap wanita sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus. Malah sejak 2010, angka kasus kekerasan terhadap wanita mengalami tren meningkat. (Baca: http://nasional.tempo.co/read/news/2015/03/07/063647808/indonesia-darurat-kekerasan-terhadap-perempuan )

Berbicara masalah kekerasan terhadap wanita tidaklah lepas dari pembahasan yang namanya gender. Gender merupakan atribut biologis yang diasosiasikan dengan pria dan wanita, dan perilaku yang dipelajari secara sosial yang diasosiasikan dengan maskulinitas dan feminitas. Dalam mempelajari masalah gender yang menyangkut masalah kekerasan pada wanita maka perlu kita mengetahui (a) apa yang menjadi perbedaan fundamental antara pria dan wanita?, dan (b) Kenapa pria menindas wanita?
Perbedaan antara pria dan wanita sering menjadi perdebatan penting dalam keseharian kita dalam menjalani hidup ini karena wanita dan pria tidaklah sama dari sisi perilaku dan pengalaman. Setiap perbedaan fundamental antara pria dan wanita ini adalah kekal (immutable). Kenapa kekal? Itu karena kekekalan biasanya dapat dirunut ke tiga faktor yaitu: (1) Biologi, (2) Kebutuhan institusional sosial pria dan wanita untuk mengisi peran yang berbeda-beda, khususnya, tetapi tidak semata-mata dalam keluarga, (3) kebutuhan eksistensial atau fenomenologis dari manusia untuk menghasilkan “Other” sebagai bagian dari tindakan definisi diri.

Secara biologi, wanita diasosiasikan sebagai makhluk yang lembut, lemah/penakut/ingin dimengerti, memakai perasaan, dan penurut. Dan pria diasosiasikan sebagai makhluk yang kuat, berkuasa/mendominasi/menaklukkan, rasional, dan penentang. Oleh karena pria diasosiasikan sebagai makhluk yang kuat, berkuasa/mendominasi/menaklukkan, rasional, dan penentang, maka dengan mudah pria melakukan penindasan terhadap wanita secara sengaja. Penindasan terhadap situasi wanita ini pada dasarnya dikarenakan “adanya persepsi pria yang menganggap wanita adalah alat kemauan pihak yang dominan (Lengerman dan Nierburgge-Brantley,1995).” Pola penindasan ini masuk dalam organisasi masyarakat yang terdalam dan yang paling meresap, dalam dominasi yang mendasar yang disebut dengan Patriarki. Melalui partisipasi dalam patriarki, pria belajar memandang hina wanita, memandang wanita bukan sebagai manusia, dan belajar mengendalikan wanita. Dalam sistem patriarki, pria memahami dan mempelajari wanita untuk sepenuhnya dikendalikan. Patriarki menciptakan kesalahan dan penindasan, sadisme dan kesenangan karena disiksa, manipulasi dan muslihat, yang kesemuanya itu mendorong pria dan wanita kebentuk tirani yang lain.

Citra patriarki sebagai praktik kekerasan oleh pria dan oleh organisasi dikarenakan oleh sifat dominasi yang dimiliki pria itu sendiri terhadap wanita sebagaimana pria adalah makhluk yang kuat, berkuasa/mendominasi/menaklukkan, rasional, dan penentang. Penindasan terhadap wanita pastilah dalam bentuk kekerasan. Akan tetapi kekerasan tak selalu dalam bentuk kekejaman fisik lahiriah saja. Kekerasan terhadap wanita dapat tersembunyi dibalik praktik eksploitasi dan kontrol yang lebih kompleks, seperti di balik standar mode dan kecantikan, dibalik gagasan tirani keibuan, dibalik ginekologi, ilmu kebidanan dan psikoterapi, dibalik pekerjaan rumah tangga yang tidak diupah, dan dibalik pekerjaan di instansi/kantor, tetapi semuanya itu di upah rendah oleh pria (Mc Kinnon,1979; Rich,1976, 1980; Roth,1999; Thompson, 1994;, Wolf,1991). Kekerasan muncul bila satu kelompok mengendalikan peluang hidup, lingkungan, tindakan dan persepsi kelompok lain untuk kepentingannya sendiri, seperti yang dilakukan pria terhadap wanita.

Tetapi, menurut saya, tema kekerasan sebagai kekejaman fisik lahiriah terletak didalam inti hubungan patriarki dengan kekerasan: “perkosaan, kekejaman seksual, membentak-bentak dan pemukulan terhadap pacar/sahabat kita yang wanita/bawahan kita yang wanita, kekejaman suami dalam rumah tangga, perbudakan seksual dalam praktik pelacuran, penganiayaan seksual terhadap anak-anak, dan sadisme dalam pornografi” yang semuanya itu tidaklah lepas dari sejarah dan praktik kultur yang menyertai hidup manusia, kita ambil contoh seperti (1) dizaman Musa dan Yesus siapa yang menjadi penzina dilempari batu sampai tewas, (2) penyiksaan lesbian, (3) Dan lain-lain.

 

Patriarki eksis sebagai bentuk sosial yang hampir bersifat universal karena pria dapat menghimpun sumber kekuatan sangat mendasar, kekuatan fisik untuk menegakkan kontrol. Segera sesudah patriarki berkuasa, sumber kekuatan lain seperti ekonomi, ideologi, hukum, dan emosional, juga dapat disusun untuk mempertahankannya. Tetapi kekerasan fisik selalu meninggalkan garis pertahanan terakhirnya dan dalam hubungan antar perorangan maupun antar kelompok, kekerasan berulang-ulang digunakan untuk melindungi patriarki dari perlawanan individual dan kolektif wanita (Caputi,1989; Faludi,1991; Riger dan Krieglstein, 2000).

 

Pria menciptakan dan mempertahankan patriarki tidak hanya karena mereka mempunyai sumber daya untuk berbuat demikian, tetapi karena mereka mempunyai kepentingan nyata dalam menjadikan wanita sebagai budak/pelayan yang harus selalu mengalah. Dalam satu hal wanita adalah alat yang sangat efektif untuk memuaskan keinginan seksual pria. Selain itu, tubuh mereka adalah esensial memproduksi anak-anak yang dapat memuaskan kebutuhan praktis dan neurosis pria. Wanita adalah tenaga kerja yang bermanfaat. Mereka pun dijadikan lambang penghias status dan kekuasaan pria. Karena dikendalikan oleh pria dewasa dengan hati-hati, mereka dapat menjadi pasangan yang menyenangkan, menjadi sumber dukungan emosional, dan menjadi alat yang berguna untuk meningkatkan status sosial pria. Karena kemanfaatannya itulah maka pria di sepenjuru bumi berupaya mempertahankan kepatuhan wanita.

Bagaimana cara mengalahkan sistem patriarki ini? Menurut saya. Wanita harus mulai sadar bahwa mereka memiliki peran dalam kehidupannya dengan cara (1) mengakui nilai dan kekuatannya sendiri, (2) menolak tekanan patriarki yang melihat wanita sebagai makhluk yang lemah, tergantung, dan kelas kedua, (3) bergabung dan mendirikan organisasi untuk menaikkan harkat, martabat, dan kesejahteraan wanita, dan (4) Meningkatkan rasa persaudaraan antar wanita yang tertindas dan tidak tertindas oleh pria. Dengan terciptanya kesadaran dan rasa persaudaraan serta rasa saling bela bagi sesama wanita yang tertindas dan tidak tertindas oleh pria, maka secara otomatis (1) wanita siap berkonfrontasi dengan dominasi patriarki di mana pun wanita itu berada, (2) wanita siap menciptakan organisasi seperti (a) perusahaan, dan (b) organisasi pembela hak wanita, dalam naungan wanita itu sendiri, (3) wanita siap mengajukan diri sebagai patner kerja, dan patner rumah tangga terhadap pria, baik itu dikantor maupun di rumah tangga tanpa ada embel-embel takut pada pria, dan (4) wanita siap menjadi teladan dan menjaga kemurnian/kesuciannya dihadapan pria dan tidak melakukan hubungan sesama jenis untuk meminimalisir kejahatan dari kaum pria.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline