Lihat ke Halaman Asli

Akhmad Saefudin

An Amateur Writer

Malu, Aku Pernah Memprotes Tuhan

Diperbarui: 25 Mei 2018   23:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

INI soal kebaikan yang ternyata tak melulu direspon dengan kebaikan pula. Bersiaplah bahwa iktikad baik kita terhadap orang lain belum tentu direspon baik pula di waktu yang sama. Karena pengalaman ini, aku pernah melayangkan protes ke Tuhan.

Ini peristiwa remeh yang kualami beberapa tahun lalu. Saat berhenti di sebuah lampu merah, aku melihat pengendara motor lain di samping kananku. Mereka muda-mudi, mungkin sepasang kekasih, mengingat kedua tangan si perempuan yang memeluk erat lelaki di depannya.

Awalnya, pengamatan itu adalah reflek sekilas, kecenderungan kita mengamati sekitar. Tetapi pandanganku kembali kuarahkan pada si perempuan yang mengenakan tas ransel itu. Tidak lain dan tidak bukan karena resleting utama tasnya terbuka lebih dari separuh, sampai-sampai sebagian isinya bisa kulihat jelas: seperangkat notebook, dompet besar, sebuah tablet ukuran 7 inchi, dan lainnya.

"Mba, itu tasnya kebuka," kataku mengingatkan.

Tidak ada respon hangat dari si perempuan. Dia justru sibuk melepas tas dari gendongan lalu mengapitnya di kedua pahanya, memeriksa isi tas, menutupnya kembali lalu terpasanglah di bahunya. Tidak ada kata-kata dari si perempuan, tetapi matanya satu dua kali melirikku dengan gesture sedikit curiga. Salah tingkahlah aku.

Lampu beralih hijau, aku langsung menarik gas dengan kencang. Saat itu, aku benar-benar marah, mungkin memarahi keadaan. "Ya Tuhan, aku beriktikad baik, kenapa justru direspon negatif," protesku.

Selang dua minggu kemudian, sebuah pengalaman kontras terjadi. Aku menitipkan motor pada seorang petugas parkir tak resmi di sebuah even kuliner. Si tukang parkir yang masih muda dengan lengan bertato itu meminta uang parkir di muka sambil berpesan jangan mengunci stang.

Prasangka negatif langsung kubatinkan. Ini preman berbaju juru parkir apa mau bertanggung jawab kalau nanti motorku hilang. Setelah mengelingi sejumlah stan beserta istri dan dua anakku, kami bergegas untuk pulang karena waktu menjelang maghrib. Saat itulah insiden terjadi, saat sudah di depan motor, mendadak kuncinya takk kutemukan. Saku baju, celana, hingga tas telah kuperiksa. Nihil.

Kami panik. Efek senja, mungkin. Kunci tak juga ditemukan, sehingga kuputuskan menyisir jalanan yang awal kami lalui. Tapi baru dua tiga langkah kuayunkan, suara dari seberang jalan seperti memanggilku. Benar saja, ternyata si juru parkir mendekatiku. Tiba-tiba dia rogoh kantong celananya dan menyerahkan sesuatu kepadaku. "Ini kuncinya tadi nyantel di jok motor," ucapnya singkat.

Duarrr !!! Adegan itu seperti menamparku. Anak muda yang sempat kuprasangkai buruk ternyata jadi penolongku. Aku malu karena terlanjur menuding ini dan itu dari penampilannya. Mendadak pengalaman dua minggu sebelumnya memenuhi kepalaku. "Ya Tuhan, aku malu pernah memprotesmu. Orang yang kulabeli buruk ini justru mempertontonkan kebaikan terhadapku,"

Dua pengalaman itu bisa saja dianggap remeh orang lain. Tapi tidak denganku. Dari drama itulah aku menjadi semakin meyakini bahwa tidak ada satu perbuatan baikpun yang sia-sia. Kebaikan, kebajikan, amal shalih tak pernah muspra. Bahkan di dunia. Ia menjadi tabungan energi kebaikan yang kapan waktunya akan kita tuai. Energi kebaikan ternyata abadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline