Lihat ke Halaman Asli

Saya Asaf

Let's Talk!

Berakar Seni, Lahirkan Tunas Literasi

Diperbarui: 3 November 2020   16:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Berawal dari 2019 silam, tidak sengaja saya membaca salah satu website terbaik yang pernah saya temui. Website tersebut memperkenalkan sebuah komunitas tari berbasis inklusi. 

Hal ini berarti siapa saja dapat menjadi bagian dari komunitas tersebut. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang tua. Tak hanya itu, bahkan saudara-saudara kita yang difabel pun dapat menjadi keluarga dan mengikuti segala aktivitas komunitas dengan nyaman.

Demikian link website (https://nalitari.org/) yang beberapa waktu lalu membuat hati saya tergetar saat mengunjungi lamannya. Saya berinisiatif untuk mencarinya di salah satu platform sosial media, instagram. 

Hati saya kembali tersentuh melihat beberapa rekam kegiatan yang dilakukan bersama dengan teman-teman difabel. Kegiatan tersebut terlihat seperti nyaman, menyenangkan, dan seperti menyampaikan pesan kesetaraan.

Kurang lebih dua minggu setelah saya banyak mencari informasi tentang komunitas ini, saya menemukan sebuah agenda yang akan diadakan dalam jangka waktu satu minggu. 

Workshop Nalitari: Tari Inklusi. Didorong oleh rasa penasaran yang tinggi, tanpa basa-basi saya segera mendaftarkan diri. Lagi, saya merasa tenggelam dalam lautan manis kesetaraan saat mengikuti kegiatannya.

Workshop tari inklusi tersebut mengajarkan saya banyak hal. Seketika saya bertanya-tanya, "Ke mana saja selama ini? Apa yang selama ini saya lalui? Berproses soal apa? Bersikap untuk hal apa?"

Tertampar sekali setelah mengetahui bahwa masih banyak orang-orang yang tidak hanya mementingkan diri sendiri, tapi benar-benar memperjuangkan jua hak-hak yang lain, menyelamatkan sesama daripada marginalisasi sistem tak kasat mata.

PERMATA DI TENGAH LAUT ANGKARA

Layaknya menemu oase di padang pasir, kurang lebih demikianlah perasaan menemu Nalitari. PDKT (pendekatan) saya tidak hanya berujung pada pengenalan, tetapi berangsur-angsur membangun cinta pada ruang lingkup inklusi. Hal yang selama ini sama sekali belum pernah saya lirik sedikit pun. Nalitari memupuk inklusivitas pada diri saya.

Berangkat dari kesadaran inklusif tersebut, seketika segala definisi "normal" yang ada di kepala pun memuai. Ternyata, "normal" tidak tentang kulit yang putih, tubuh yang semampai, pipi yang tirus, bola mata yang bulat, bibir yang merona, kaki yang indah, lengan tanpa lemak berlebih, dan sebagainya. Tidak. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline