Lihat ke Halaman Asli

Satria

Catatan Perjalanan Makna

Menerima dan Melepaskan - Kakek Seo (Miracle In Cell No.7)

Diperbarui: 28 Oktober 2022   12:01

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lyfe. Sumber ilustrasi: FREEPIK/8photo

"Dalam hidup sangat mudah menerima hal apapun, tapi sulit untuk melepaskannya."

( Kakek Seo - Miracle In Cell No.7 )

Kita itu paham semua yang kita miliki di dunia ini adalah milik Tuhan, tapi kenapa yah kita masih sering ngga ikhlas saat kita kehilangan sesuatu ?

---------

Takdir Sebagai Penerima

Seperti yang di katakan John Locke dalam teorinya tentang Tabula Rasa, kita lahir ke dunia itu ibarat kertas kosong yang suci tanpa coretan apapun. Kemudian kita tumbuh dan kertas itu di isi oleh banyak hal seperti pengalaman, wawasan, ideologi atau faktor lainnya yang pada akhirnya akan membentuk seperti apa kita nanti. Hingga akhirnya kita sampai pada titik dimana kita menerima dan merasakan banyak hal seperti penderitaan, rasa bahagia, kekecewaan dan lainnya. 

Kita ini hidup sebagai konsumen dimana Tuhan adalah produsen terbaik yang akan mensuplai apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan. Cinta, kasih sayang, rasa sakit atau penderitaan adalah bagian dari produk yang Tuhan berikan agar kertas kosong yang sudah kita pegang sejak lahir menjadi sebuah coretan warna baik itu menjadi warna yang abstrak ataupun konkret. Sehingga identitas kita terbentuk menjadi sesuatu yang bisa di deskripsikan oleh orang lain dan diri kita sendiri. 

Paradigma Tentang Kepemilikan

Kita tuh sering menganggap bahwa semua yang kita dapatkan dengan usaha kita yah itu udah milik kita pribadi tanpa berpikir dua kali bahwa ini semua itu hasil acc dari Tuhan, terlepas apakah kita punya andil yang besar dalam berjuang untuk mendapatkan semua itu. Dan umumnya sebuah produk itu yah pasti punya tanggal kadaluarsa. Yang berarti kita ngga akan selamanya bisa menikmati apa yang sudah kita dapatkan. Akan ada waktunya hal itu pasti hilang atau habis.

Saat kita menyayangi seseorang dan merasakan kasih sayang, mungkin kita akan secara naluriah beranggapan bahwa ini adalah hal yang kita butuhkan seumur hidup. Sebaliknya saat kecewa dan merasakan sakit, kita akan beranggapan bahwa kita tidak membutuhkan ini. Yah sah - sah aja sih, tapi kalo kita membeli suatu produk, sebanyak apa kita memberikan uang yah sebanyak itu juga kita akan dapat berdasarkan nilai tukarnya dan suatu saat produk itu akan habis. Artinya kalo kita mau menyayangi seseorang yah kita harus siap bahwa suatu saat nanti akan merasakan kehilangan, kapanpun itu.

Jadi yang sebenarnya terjadi kita mungkin secara sadar mengetahui bahwa semua hal yang kita miliki di dunia ini adalah milik Tuhan dan suatu saat akan kembali. Tapi secara naluriah kebanyakan dari kita menolak konsep itu sendiri. Berarti ada kontradiksi di sini. Kita dengan sangat mudah menerima bahwa sesuatu yang diberikan oleh Tuhan adalah milik kita, seperti harta, kekuasaan dan orang - orang yang kita sayangi. Tapi sangat sulit bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa semua itu akan hilang pada waktunya. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline