Lihat ke Halaman Asli

Sarifa Aliyal Bana

Happy Reading

Zuhud di Era Modern dalam Perspektif Q.S Al-Hadid Ayat 20

Diperbarui: 11 Desember 2021   22:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perkembangan teknologi yang semakin maju di berbagai belahan dunia telah memengaruhi hampir semua segi kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran terkonogi mampu memberikan berbagai kemudahan bagi manusia. Namun, disamping tersedianya kemudahan tersebut, ada nilai-nilai keagamaan yang mulai luntur dalam kehidupan manusia.

Sikap matrealistik dan gaya hidup yang hedonis membuat manusia terlena dalam hal-hal yang bersifat duniawi. Bahkan, mereka akan melakukan berbagai cara demi memenuhi kepuasan duniawinya semata. Pada dasarnya, krisis spiritualitas ini di latar belakangi oleh ketidakseimbangan antara urusan dunia dan urusan agama. Maka, untuk mengatasi permasalahan tersebut manusia perlu menghadirkan nilai-nilai tasawuf untuk menata kehidupan mereka di era modern ini, demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.

Zuhud secara etimologis berarti ragaba ‘an syari’in wa tarakahu yang berarti tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Selain itu, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, zuhud berarti menyediitkan sesuatu. Adapun secara terminologi, munurut Al-Ghazali zuhud bukan berarti menyianyiakan harta,namun zuhud adalah ketika engkau lebih memercayai segala sesuatu yang berada dalam genggaman Allah dari pada apa yang ada pada genggaman tanganmu.

Bagi para sufi, zuhud merupakan dasar utama untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui sebuah perjalalan spiritual. Sedangkan pengertian zuhud jika dilihat dari sisi akhlak islam adalah sikap seseorang yang menjadikan dunia sebagai tempat untuk beribadah dan mendapatkan ridha ilahi.

Kata zuhud hanya disebut satu kali saja dalam Al-Qur’an, yakni dalam Q.S Yunus ayat 20. Namun dalam beberapa ayat Al-Qur’an juga menjelaskan secera tersirat tentang makna zuhud. Sebagaiman firman Allah dalam Q.S Al-Hadid ayat 20. Dimana dalam Fiman tersebut, Allah menjelaskan bahwa dunia ini hanyalah sebuah permainan yang melelahkan.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S Al-Hadid (57): 20).

Dalam Q.S Al-Hadid ayat 20 dijelaskan bahwa kehidupan dunia pada hakikatnya hanyalah sebuah permainan belaka, yang mengorbankan waktu demi menghasilkan kesenangan hati dan mengantarkan manusia pada kelalaian. Mufassir menjelaskan bahwa dunia hanyalah perhiasan yang kenikmatannya hanya bersifat sementara, dan hanya akhiratlah yang memiliki kenikmatan yang hakiki.

Maka, apabila manusia hanya mengikuti alur permainan dunia maka mereka akan terlena karena kelalaiannya dan mengantarkannya pada kedengkian, iri hati dan berbangga-bangga terhadap apa yang mereka miliki. Akibatnya, mereka mulai melupakan kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang abadi.

Selanjutnya dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan mengenai permisalan bahwa kehidupan dunia ibarat hujan yang turun kemudian menumbuhkan tanaman-tanaman yang menakjubkan para petani. Namun seiring berjalannya waktu, tanaman itu akan tumbuh tinggi dan mulai menguning, dan tak lama kemudian akan hancur. Demikianlah permisalan tentang singkatnya kehidupan dunia ini. Dan di akhirat kelak akan ada balasan bagi mereka yang lalai terhadap germerlapnya dunia dan ada pula ampunan dan ridha Allah bagi mereka yang menjadikan dunia sebagai ladang untuk meraih kebahagiaan akhirat.

Mayoritas umat Islam yang masih awam menganggap bahwa zuhud berarti harus mengasingkan diri dari keramaian dunia karena menurut mereka kehidupan dunia dan akhirat adalah dua hal yang berbeda dan saling bertentangan. Mereka memiliki anggapan bahwa orang yang zuhud akan meninggalkan dunia sehingga seluruh hidupnya diisi dengan ibadah tidak perlu bekerja. Menurut mereka, orang yang memiliki harta yang berlimpah tidak bisa mendapaatkan kebahagiaan akhirat bahkan tidak akan mencapai tingkatan ma’rifatullah.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline