Lihat ke halaman asli

Sarianto Togatorop

Pengajar yang menyukai kebebasan

TERVERIFIKASI

Seseorang yang tak tahu kalau dia ada

Degradasi Atlet, Bukti Tidak Main-mainnya PBSI

Diperbarui: 22 Mei 2020   22:37

(KOMPAS.COM/GARRY LOTULUNG)

Degradasi atlet di PBSI bukanlah hal yang baru. Isu ini kembali hangat setelah mundurnya Tontowi Ahmad dari PBSI dan menyatakan gantung raket. Banyak polemik seputar keputusan kontroversial ini. Namun baik Tontowi maupun PBSI tentu punya alasan masing-masing dalam mengambil keputusan.

Indonesia sebagai salah satu negara kuat dalam bulutangkis selalu menelurkan bibit-bibit pemain yang mempunyai bakat mumpuni. Tentu akan ada persaingan untuk menjadi yang terbaik. 

Dan tentu PBSI hanya akan memilih yang terbaik untuk mendapat fasilitas negara yang tujuan akhirnya tentu saja untuk meraih prestasi bagi negara. Degradasi sebagai sebuah hal yang rasional, sebab seorang atlet tak akan mungkin bertahan selamanya dan akan segera digantikan oleh atlet junior.

Bahkan sebelum era Susi Susanti pun, PBSI telah melakukan degradasi bagi atletnya. Saya meyakini pada era-era itu tak hanya pemain-pemain hebat yang kita kenal dulu yang punya bakat cemerlang, masih banyak yang lain. Namun PBSI, dengan keterbatasannya, tentu akan memilih dan mempertahankan yang terbaik dengan prospek cemerlang dan sebagai gantinya akan membuang pemain bagus yang kemampuan sedikit lebih rendah. 

Inilah mengapa kita hanya punya stok Susi Susanti dan Mia Audina sebagai ujung tombak tunggal puteri PBSI. Mirisnya, setelah Susi Susanti pensiun (ini pun bagian dari degradasi), Mia Audina malah meninggalkan PBSI karena pindah kewarganegaraan, meski pun ia mengajukan permohonan untuk tetap bermain bagi Indonesia. Ya, PBSI tentu mendegradasinya, walau PBSI tahu belum ada penerus yang mampu selevel dengan mereka.

Tahun 2018, PBSI mulai menerapkan aturan Promosi dan Degradasi bagi penghuni pelatnas sebagai bentuk efisiensi dan motivasi para atlet untuk mengejar prestasi. 

Atlet tidak boleh nyaman menikmati fasilitas namun minim prestasi. Yang berprestasi akan tetap bertahan, namun yang mengalami penurunan prestasi akan ditinjau untuk dikembalikan ke klub asalnya atau mendapat status magang (percobaan). Potensi, sikap, kemauan dan peningkatan atlet menjadi tolok ukur.

Apa yang menarik di sini adalah, penerapan prinsip tanpa pengecualian. Nama-nama besar yang telah meraih juara di berbagai turnamen pun tidak ada jaminan lolos begitu saja. Semua akan bersaing untuk tetap layak mengisi daftar pemain yang dipertahankan. Tak heran banyak nama-nama pemain yang kita kenal memiliki kemampuan bagus, namun terdegradasi karena tak kunjung berprestasi.

Mundurnya Tontowi Ahmad memang mengejutkan. Peraih medali emas Olimpiade 2016 memutuskan gantung raket di usia yang masih bisa berprestasi. 

Alsan status magang yang diberikan kepadanya disebut-sebut sebagai salah satu pemicu ia mengambil keputusan pensiun dini. Status magang diberikan kepada Tontowi mengingat duetnya dengan Winny Oktavina Kandow yang belum mampu mencapai prestasi mumpuni. 

Pasangan ini memang mampu mencapai peringkat 16 BWF, namun tak berhasil lolos kualifikasi Olimpiade 2020. Winny kembali bertandem dengan pasangan sebelumnya Akbar Bintang Cahyono dan Tontowi akan berduet dengan Apriani Rahayu. Apriani sendiri sedang fokus di ganda puteri bersama Greysia Polii untuk persiapan Olimpiade. Praktis Tontowi tak punya tandem dan minim prestasi.

Video Pilihan
Halaman Selanjutnya

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline