Lihat ke Halaman Asli

Muhamad Samiaji

Berkeliling mencari pengetahuan baru

Data, Fakir, dan Miskin

Diperbarui: 15 September 2019   01:34

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

ilustrasi pemukiman kumuh. (foto: KOMPAS/RIZA FATHONI)

Antusiasme warga untuk mendaftar membuat kelurahan diserbu dan antrian hingga keluar kantor kelurahan. Mulai dari keluarga meng"aku" miskin, pasangan muda, pensiunan, hingga lansia yang sulit berjalan.  

Cipinang Besar Utara (selanjutnya disingkat CBU), siapa yang tahu d imana itu? Ada dua ikon yang terkenal dimata orang yakni Penjara Cipinang dan TPU (tempat pemakaman umum) Prumpung. 

Ketik saja di googlemaps, maka anda akan diarahkan kesana. Semasa kecil sekitar 8 - 14 tahun saya sering bermain disana karena ada lapangan bola, sawah, kebun, tamanan buah-buahan dan teman sekolah yang bertempat tinggal disana. 

Saya kembali setelah 9 tahun. Kini, kondisi jauh berubah seiring perkembangan. Tidak ada lagi sawah, kebun dan lapangan bola yang ada pemukiman padat penduduk. Entah dimana teman sepermainan saya, mungkin tergusur pembangunan calon tol Becakayu (Bekasi, Cawang, Kampung Melayu)

Saya kini bekerja sebagai PJLP Pusdatin Dinas Sosial di Kelurahan Cipinang Besar Utara. Pada saat saya menulis, terhitung sudah 8 bulan bekerja dan sekarang sedang sibuk pendataan calon pendaftar Basis Data Terpadu (BDT). 

Sejak awal pembukaan pendaftaran hingga sekarang (4 hari) Jumlah pengisi formulir mencapai seribu dan terus bertambah pada akhir pendaftaran. Berkat sosialiasi yang canggih antara kelurahan, LSM dan LMK.

Para warga berduyun berdatang ke kelurahan meskipun ada beberapa insden kecil seperti salah informasi (Pendataan KJP, Pendataan Orang Ngontrak, Penerimaan Kartu Bantuan Sosial dkk), salah membawa syarat administrasi (foto keluarga, foto anak, surat keterangan miskin dll) hingga kesalahan mengisi formulir. 

"Saya kembali setelah 9 tahun. Kini, kondisi jauh berubah seiring perkembangan. Tidak ada lagi sawah, kebun dan lapangan bola yang ada pemukiman padat penduduk."

Namun itu bisa diatasi. Antusiasme warga untuk mendaftar membuat kelurahan diserbu dan antrian hingga keluar kantor kelurahan. Mulai dari keluarga meng"aku" miskin, pasangan muda, pensiunan, hingga lansia yang sulit berjalan. 

Membludaknya warga dapat diatasi dengan turut campur tangan warga, PPSU, kepolisian setempat, Babinsa, satpol PP, dan lainnya. Maklum, pemukiman CBU adalah pemukiman kumuh dan miskin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline