Lihat ke Halaman Asli

Wahyuni Susilowati

TERVERIFIKASI

Penulis, Jurnalis Independen

Bolehkah Atlet Transgender Bertanding sebagai Atlet Putri?

Diperbarui: 29 Maret 2020   09:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dua atlet transgender berlaga dalam sebuah kompetisi lari putri di AS (doc.Washington Post/ed.Wahyuni)

Pelari Selina Soule yang duduk di kelas akhir SMA Glastonbury High School, Chelsea Mitchell juga siswa kelas akhir Canton High School dan Alanna Smith, seorang mahasiswi di Danbury High School telah mengajukan gugatan pada Februari lalu terhadap dewan Connecticut Interscholastic Athletic Conference (CIAC, Konferensi Atletik Interscholastic Connecticut) dan beberapa dewan pendidikan lokal terkait isu lesbian, gay, biseksual, transgender alias LGBT (Associated Press, 26 Maret 2020).

Ketiganya menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kesempatan untuk memang, meraih gelar nasional, dan peluang berprestasi (termasuk beasiswa) atletik karena dipaksa untuk bersaing dengan atlet transgender yang notabene secara fisik adalah laki-laki.

"Laki-laki akan selalu memiliki keunggulan fisik yang melekat (pada diri mereka) dibandingkan anak perempuan yang berbakat dan terlatih, itulah alasan mengapa kamimengadakan ajang olahraga khusus untuk anak perempuan." Ujar pengacara mereka Christiana Holcomb pada Rabu (25/6) lalu. "Dan keyakinan pria tentang gendernya (bahwa dia merasa dirinya perempuan) tidak menghilangkan keuntungan itu."

Keputusan CIAC selaku dewan yang mengawasi kompetisi atletik SMA di negara bagian itu memperbolehkan atlet untuk bersaing sebagai gender sesuai hasil identifikasi/keyakinannya, dengan alasan mengikuti hukum negara yang mengharuskan siswa sekolah menengah diperlakukan sesuai dengan identitas gender mereka. 

Ia juga berpendapat kebijakan itu sesuai dengan Bab IX hukum federal yang memungkinkan anak perempuan kesempatan pendidikan yang sama, termasuk dalam atletik.

Namun lembaga peradilan AS tidak sependapat dengan mereka. Sebagaimana dirilis Associated Press, Departemen Kehakiman AS melibatkan diri dalam gugatan hukum hak-hak sipil federal yang berupaya menghalangi atlet transgender di Connecticut agar tidak berkompetisi sebagai perempuan dalam olahraga antarkolastik. Lalu Jaksa Agung William Barr menandatangani 'statement of interest' hari Selasa (24/3) lalu untuk menentang kebijakan Konferensi Atletik Interscholastic Connecticut tersebut.

Departemen Kehakiman memaparkan argumen ketidaksetujuannya dengan menekankan telah terjadi salah penafsiran CIAC terhadap isi Bab IX hukum federal.

" ... di bawah interpretasi CIAC terhadap Bab IX dimana sekolah mungkin tidak mempertimbangkan perbedaan psikologis nyata antara pria dan wanita. Sebaliknya sekolah harus batasan jelas tentang bolehkah siswa yang secara biologis laki-laki yang secara terbuka mengidentifikasi diri sebagai perempuan  jantan biologis tertentu bertanding melawan siswa yang secara biologis perempuan. " Tulis Barr dan pejabat departemen lainnya,'Dengan melakukan hal itu, CIAC telah merampas (kesempatan) para siswa perempuan (untuk bertanding) dalam kompetisi atletik bagai mereka yang bergender sama, salah satu tujuan utama yang ingin dicapai (dengan penyusunan) Bab IX."

Direktur Eksekutif CIAC Glenn Lungarini mengatakan kebijakan transgender organisasi itu dibentuk dengan panduan federal dan negara bagian, dia mengakui bahwa banyak pengadilan dan lembaga federal, termasuk Departemen Kehakiman telah menyatakan bahwa istilah "jenis kelamin" dalam Bab IX tidak jelas.

Sementara itu American Civil Liberties Union, yang pengacaranya mewakili dua atlet transgender yang berlomba di Connecticut , mengatakan akan jadi masalah besar bila pemerintah AS akan mempertimbangkan untuk 'memperjelas rasa tidak percayanya bahwa gadis-gadis transgender layak menikmati perlindungan di bawah hukum federal. '

"Klien kami adalah dua siswa kelas akhir sekolah menengah yang hanya ingin mencoba untuk menikmati (berlari pada) musim lintasan terakhir sekolah dan sekarang harus bersaing dengan pemerintah federal dengan menentang hak mereka atas kesempatan pendidikan yang setara." Kata Chase Strangio, wakil direktur Trans Justice di Proyek LGBT & HIV ACLU. "Sejarah akan melihat kembali serangan anti-trans ini dengan penyesalan dan rasa malu yang mendalam. Kami akan terus memperjuangkan hak-hak semua gadis (trans) untuk berpartisipasi dalam olahraga yang mereka sukai. "

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline