Lihat ke Halaman Asli

Rofni Lolaen

Freelancer

Dua Tahun Gaduh, Menteri Harus Tegas Stabilkan Unima

Diperbarui: 4 Juni 2019   12:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

REKTOR Universitas Negeri Manado (Unima) Julyeta Paulina Runtuwene belum bisa duduk nyaman. Sudah satu tahun lebih dilantik sebagai nahkoda Unima periode 2016-2020, tetapi hingga kini kursinya masih panas.

Sekelompok elit yang mengaku ingin menegakkan kebenaran di Kampus Biru, begitu rajin meminta dan mendesak Menteri Riset, Teknologi, dan  Tinggi (Menrisetdikti) Mohammad Nasir untuk memberhentikan Paula Runtuwene sebagai rektor.

Alasannya, ijasah strata tiga (S3) istri Wali Kota Manado Vicky Lumentut itu, diyakini aspal atau diperoleh dengan cara ilegal. Desakan kelompok ini dikuatkan juga dengan hasil pemeriksaan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) yang kemudian merekomendasikan Kemenrisetdikti untuk meninjau dan mengevaluasi kembali jabatan rektor Paula.

Ranking Universitas di Indonesia Terbaru

Sempat pasang surut, pada Oktober 2017 ini, tensi kembali naik. Mohammad Nasir dihadapkan pada situasi pelik; melegitimasi ijasah Paula dan meneruskan jabatannya, atau sebaliknya menganulir ijazah dan memberhentikannya. Tentu tidak mudah bagi sang menteri.

Bagi saya sebagai alumni, gejolak di Unima hampir dua tahun ini, sudah terlalu panjang, tidak sehat, dan jelas merugikan civitas kampus khususnya dan masyarakat Sulut umumnya. Dari sanksi terhadap mantan rektor Philoteus Tuerah hingga dibatalkannya Harold Lumapow sebagai rektor, gejolak di Unima belum juga selesai.

Energi pemimpin Unima banyak terkuras untuk mempertahankan posisinya dan bukan lagi berkonsentrasi pada bagaimana memajukan Unima. Di saat perguruan tinggi lain terbang, Unima malah masih jalan di tempat. Banyak persoalan di kampus yang sebenarnya tidak kalah penting dan genting, tetapi abai mungkin karena konflik yang tak berkesudahan ini.

Masalah di Unima dan beberapa perguruan tinggi hari ini, bagi saya sebenarnya adalah wujud dari belum matangnya bangsa kita. Sejak orde baru terguling kemudian masa reformasi 1998 bergulir, Indonesia masih mewarisi penyakit dari segi mentalitas maupun karakter. Indonesia saat ini memang belum sembuh dari sakit itu.

Tidak heran, sekarang masalah bangsa kita masih berjibun di banyak sektor pemerintahan. Perilaku korupsi kolusi nepotisme (KKN), telah merasuk di berbagai sendi bangsa, baik di lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Perilaku yang lahir dari mentalitas corrupt dan cacat karakter. Saya kira ini adalah alasan digaungkannya revolusi mental dan pendidikan karakter pemerintahan Jokowi.

Pelanggaran bahkan kejahatan dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah gejala dari bangsa yang sakit mental dan karakter itu. Masalah plagiarisme dan juga nepotisme di Universitas Negeri Jakarta, skandal akademik Unima tahun 2016, dan kasus-kasus lain, adalah bukti bahwa penyakit mentalitas itu juga mengakar dan menyebar di jajaran Kemenrisetdikti.

Oleh karena itu, tudingan bahwa ijazah Paula diperoleh dengan cara ilegal dapat dipahami. Di tengah kondisi bangsa yang sakit, di mana keadilan, kebenaran dan jabatan dapat dibeli, maka tidaklah mengherankan bila ada pihak yang menganggap ijasah rektor perempuan pertama Unima itu diperoleh dengan tidak benar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline