Lihat ke Halaman Asli

Choirul Huda

TERVERIFIKASI

Kompasianer sejak 2010

Tapak Tilas Hari Kemerdekaan di Museum Prangko

Diperbarui: 25 Juni 2015   01:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13451694261950694514

[caption id="attachment_193614" align="aligncenter" width="614" caption="Salah satu koleksi prangko kemerdekaan dengan gambar pembacaan naskah proklamasi"][/caption] "Prangko itu unik, selain dahulunya sebagai tanda bukti pembayaran berkirim surat, juga untuk dikoleksi yang tak lekang tergerus zaman. Sejak akhir abad 20, banyak penggiat prangko yang mengabadikan kertas kecil ini sebagai sebuah kenangan masa lalunya," ucap seorang kawan penggiat filateli.

*      *      *

Berkunjung ke Museum Prangko, di Taman Mini Indonesia Indah, pada Kamis (16/8), merupakan salah satu kenangan berharga bagi saya. Niat awalnya untuk melihat pameran prangko bertema Disney, karya Ibu Christie Damayanti, akhirnya dapat menyaksikan beberapa koleksi bersejarah di Museum yang diresmikan tahun 1983 itu. Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, saya  menyempatkan untuk melihat beberapa koleksi prangko bertema perjuangan. Sekitar 500-an prangko yang tersusun rapi dalam beberapa etalase di dalam ruangan Museum. Di keterangan yang tertera dalam katalog, terdapat beberapa tahun terbit prangko resmi sejak Indonesia merdeka. Mulai era 1945-1949 pasca Kemerdekaan, era 1974-1979 masa Pelita III yang ditandai dengan puncak prestasi Indonesia di dunia olahraga, hingga era 2000-an saat ini. Dengan hanya mengeluarkan Rp 2.000 untuk membeli tiket masuk Museum Prangko, saya pun dapat berkeliling menyusuri areal seluas 9.590 m2, bersama dua kawan Kompasianer lainnya, Om Valentino dan Mbak Avis. Koleksi prangko lawas dari dua Proklamator Kemerdekaan, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, tertata apik bersama ribuan prangko lainnya. Atau, yang tak kalah mengejutkan adalah ketika saya melihat koleksi prangko terbitan tahun 1947, bergambar pembacaan teks proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Soekarno. Prangko yang diterbitkan dahulu seharga 15 sen itu, tepat dibawahnya terdapat lukisan perobekan bendera warna biru Belanda untuk digantikan bendera Indonesia berwarna merah putih di Hotel Yamato, Surabaya, pada  18 September 1945. Tidak hanya itu, koleksi museum yang digagas almarhum Ibu Tien Soeharto ini, juga terdapat beberapa patung petugas Pos Indonesia, serta Pramuka anak-anak yang sedang melakukan kegiatan filateli. Berikut ini adalah beberapa foto yang saya ambil saat mengunjungi Museum Prangko, sore kemarin (16/8).

*       *       *

[caption id="attachment_193617" align="aligncenter" width="614" caption="Prangko Dwi Tunggal Proklamator Indonesia"]

1345169466720687391

[/caption] Koleksi prangko, dengan gambar mantan Presiden Pertama RI, Insinyur Soekarno, dan mantan Wakil Presiden RI, Drs. Mohammad Hatta. Dahulu, prangko ini seharga 25 dan 10 sen, namun saat ini nilainya di pasaran berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah, karena nilai sejarahnya yang tinggi bagi penggemar filateli.

*      *       *

[caption id="attachment_193618" align="aligncenter" width="614" caption="Prangko Kembali ke UUD 1945"]

13451695222059633629

[/caption] Koleksi prangko Kembali ke Undang Undang Dasar 1945, yang merupakan landasan utama Bangsa Indonesia. Prangko berwarna putih polos ini, saat diterbitkan dahulu seharga 50 sen, dan kini menjadi salah satu koleksi tak ternilai.

*      *       *

[caption id="attachment_193619" align="aligncenter" width="461" caption="Seri prangko Kemerdekaan terbitan tahun 1945-1949"]

13451696161153986208

[/caption]

*      *       *

[caption id="attachment_193620" align="aligncenter" width="614" caption="Seri kartu pos dan prangko era 1990-an dengan mantan Presiden Soeharto dan Piala Dunia 1994"]

1345169661706399569

[/caption]
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline